Namun Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda ternyata sudah mengantisipasinya. Dikonfirmasi korankaltim.com, Kepala Disdag Samarinda Marnabas menyebutkan langkah tersebut adalah membatasi pengunjung pada pasar dengan pola buka tutup.
"Kami bekerjasama dengan TNI dan Polri juga Satpol PP, jadi kalau di dalam pasar sudah mulai penuh kami di luar yang menghalangi dulu mereka yang masu masuk, tunggu mulai longgar baru kami perbolehkan masuk," jelas Marnabas Selasa (4/5/2021) hari ini.
Hal itu tak hanya diberlakukan pada pasar-pasar tradisional tapi juga pusat perbelanjaan modern guna mengantisipasi ledakan okupansi pengunjung.
Masyarakat yang datang juga diminta dapat memanfaatkan waktu dalam berbelanja dengan baik, sehingga pengunjung lainnya dapat bergiliran. "Jadi kalau sudah selesai belanjanya segera kembali pulang," tuturnya.
Akan tetapi pemberlakuan itu akan disesuaikan dengan fakta kondisi di lapangan, sebab Marnabas juga sempat melontarkan ucapan jika kedepan ternyata ledakan pengunjung tak dapat diatur dengan pembatasan itu maka pihaknya akan mengambil langkah dengan melakukan penutupan pada pasar tersebut.
"Opsinya kalau nanti di pasar tidak bisa diatur juga maka pasar akan kami tutup, ini dilakukan demi menghindari lonjakan kasus, tapi mudahan dengan buka tutup kita bisa mengaturnya" harapnya.
Tren masyarakat memenuhi sejumlah pasar yang ada di Samarinda menurutnya biasanya terjadi pada 10 hari sebelum perayaan Idulfitri karena itu pihaknya akan mendirikan posko di tiap pasar untuk dapat mengatur pergerakan masyarakat di dalam.
Penulis : Claudius Vico
Editor: Aspian Nur