Ia mengatakan untuk pencarian hari kedua, korban atas nama Aan Ariadi tersebut, selain dilakukan penyisiran, pihaknya juga melakukan pemantauan di sekitar terjadinya abrasi.
"Untuk keamanan kami tidak terlalu dekat dengan TKP abrasi, karena sampai saat ini tanah masih bergerak dan pencarian kami lakukan sejauh 1 km dari TKP korban tenggelam," ungkapnya.
Selain itu pihaknya juga fokus pada titik-titik rintangan di air, seperti kapal-kapal yang bersandar, maupun bangkai kapal.
"Karena kan memang disini banyak kapal-kapal yang sandar maupun adanya bangkai kapal disekitar. Ini akan dilakukan secara bergantian oleh tim SAR gabungan baik dari TNI/Polri, maupun unsur relawan," terangnya. "Dan kami juga menginformasikan kepada kapal-kapal melintas, terkait operasi SAR yang lakukan, kalau mereka menemukan bisa langsung melaporkan ke kami. Dan meminta mereka untuk mengurangi kecepatan, sehingga abrasi tidak terjadi," sambungnya.
Saat disinggung terkait kendala yang dihadapi oleh tim SAR gabungan dalam upaya pencarian korban, pihaknya tak bisa mendekati TKP titik korban tenggelam.
"Kendalanyan itu saja, ya untuk keamanan karena abrasi masih terjadi. Tetapi, dari keterangannya korban ini terjatuh ke sungai tidak tertimbun tanah akibat abrasi," tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, saat itu Aan baru datang sedangkan rekannya, Galih sudah lebih dahulu berada di TKP di bawah Jembatan Mahkota II sesi Palaran, sekitar pukul 12.05 WITA pada Minggu (25/4/2021) kemarin.
Dan saat korban duduk, tak lama terjadilah abrasi dan keduanya pun langsung berusaha menyelamatkan diri. Tetapi, naas Aan diduga tenggelam sedangkan rekannya berhasil menyelamatkan diri, dengan berpegang pada tali bangkai kapal tenggelam.[]
Penulis: Nancy
Editor : Rusdi