Wakil Wali Kota Samarinda H Rusmadi memboyong beberapa pejabat dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemkot Samarinda pada kegiatan ini. Pada kesempatan tersebut, Rumadi menyatakan dirinya sudah meminta kepada camat dan lurah setempat untuk mengidentifikasi persoalan apa saja yang ditemukan pada drainase di simpang Sempaja.
"Nanti dilaporkan, mudah-mudahan dengan apa yang dilakukan ini bisa mengurangi titik banjir," harap Rusmadi. Kepala Bidang (Kabid) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) PUPR Samarinda, Desy Damayanti menilai persoalan terbesar pada simpang Sempaja adalah sedimentasi karena sistem drainase di kawasan itu tidak memiliki sedimen trap.
"Makanya pada satu jalur drainase itu ada sedimennya," sebutnya. Persoalan lainnya yaitu drainase di simpang Sempaja juga belum tersambung ke sungai dengan maksimal, karenanya koneksi aliran drainase ke sungai juga menjadi salah satu pekerjaannya.
"Nanti sumber anggaran juga dari Bankeu (Bantuan Keuangan) Provinsi," sebut Desy lagi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, Hero Mardanus menjelaskan, titik penanganan banjir selain simpang Sempaja dan kawasan Jalan DI Panjaitan, dalam program 100 hari kerja juga menyasar Simpang Lembuswana.
"Tapi simpang itu tidak 100 hari karena kami perlu lelang," beber Hero. Di simpang Lembuswana yang juga langganan genangan air saat hujan lebat mengguyur juga sudah ditemukan penyebabnya, yaitu penyempitan seperti leher botol (bottle neck) yang mengakibatkan air tidak bisa dengan cepat mengalir ke sungai. "Penyempinatannya ada di depan rumah jabatan wali kota," ungkap Hero.
Penulis : Claudius Vico
Editor: Aspian Nur