Pengurus Klenteng Tian Gie Khong, Hanksen membenarkan perayaan imlek pada tahun ini sangat berbeda. "Kami mengadakan Imlek dengan penuh kesederhanaan karena masa pandemi Covid-19," ujar Hanksen.
Kesederhanaan perayaan hari besar itu ditunjukan dalam bentuk pembatasan umat saat beribadah, dengan kemampuan kapasitas ruangan sebanyak 50 orang, saat ini dibatasi sekira 15 orang. "Supaya tidak ada keramaian, sesuai dengan protokol pemerintah," sebutnya.
Ternyata pembatasan tak hanya dilakukan saat beribadah, bagi umat yang merayakan juga melakukan hal yang serupa dengan membatasi kunjungan tamu, contohnya Antonius atau The Lee Chuan mengaku perayaan di rumahnya masih ada, namun bedanya hanya dihadiri oleh keluarga kecil saja. "Hanya keluarga kecil aja, seperti sanak sauda saja, tidak dengan keluarga besar," kata Lee Chuan.
Hal itu bertujuan agar tidak menimbulkan kerumunan yang berlebihan, membendung potensi penyebaran corona. Namun pembatasan yang dilakukan tak mengurangi rasa khidmat Hari Raya Imlek "Silaturahminya kurang, biasa ngumpul di rumah anak pertama dan kumpul disana," tuturnya.
Elvina Wongadi yang turut memperingati Imlek tak ingin kehilangan momen tersebut, bahkan ia sudah memberi informasi kepada keluarga besarnya tidak menerima tamu (open house) namun pemberian ucapan lebih memanfaatkan kemajuan teknologi. "Sudah diinformasikan tidak ada open hous jadi pas hari H ucapinnya via video call," sebut Elvina.
Penulis : Claudius Vico
Editor: Aspian Nur