"Tepian itu, untuk biaya sewa jauh lebih murah dibandingkan Citra Niaga. Itu yang menjadi pertimbangannya," ucap Joni, Kamis (24/9/2020).
Bukan karena pilih kasih, lanjut Joni pertimbangan itu dilakukan lantaran melihat beban yang akan dipikul bagi pelaku usaha juga sangat berat apabila penutupan itu diberlakukan pada Citra Niaga tanpa melihat pertimbangannya. "Bedanya kalau Citra biaya sewa, kalau Tepian mereka hanya retribusi," terangnya.
Untuk pelanggaran yang dilakukan dua kawasan tersebut, ia menilai benar adanya, lantaran tak ada jaga jarak pada tempat berkongkow ria anak muda Samarinda itu.
"Kalau pelanggaran sudah jelas ada, tapi untuk kelonggaran yang diberikan saya rasa sudah tepat," tambahnya.
Ia menyarankan kepada para pedagang kawasan Tepian Mahakam agar dapat melakukan inovasi, supaya kebutuhan sehari-hari juga dapat terpenuhi.
"Ya apabila pendapatan mereka disitu saja, jelas mereka harus berinovatif, entah berjualan di rumahnya, tapi dengan catatan jangan sampai protokol juga masih dilanggar," terangnya.
Ia menegaskan kebijakan Pemkot Samarinda juga merupakan bertumbuhnya kesadaran bagi oara pelaku usaha lainnya. Belajar dari dua kawasan tersebut, artinya jangan sampai setelah hukuman ditegakkan baru mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan.
Namun dibalik semua ini mungkin segelintir orang juga sempat berpikir bahwa penutupan kawasan tersebut juga mengapa tak dibarengi dengan Tempat Hiburan Malam, tentunya berpikir tentang percepatan penyebaran virus sangat berpotensi besar di tempat itu. Joni berkomentar mengapa sampai saat ini THM tak juga ditutup.
"Sejauh ini coba diliat aja THM itu sangat mematuhi protokol, satgas penegak Perwali juga sudah pernah mantau kok, dan mereka nilai tak terjadi pelanggaran," ungkap Joni.
Hal ini ia akui tak ada keterkaitannya dengan perbedaan besaran pajak yang disetorkan kepada Pemkot Samarinda. Justru ketika THM didapati adanya pelanggaran tetap akan ditindak tegas.[]
Penulis : Claudius Vico
Editor : Rusdi