Media ini pun berusaha untuk menelusuri alur cerita dari salah satu kawan akrab KKR 73. Dia enggan identitasnya dibeber. Anggap saja namanya Ferguso.
Ferguso menyebutkan, keadaan fisik KKR 78 memang sudah lemah. Selain faktor usia, almarhum memiliki riwayat penyakit asam urat, kolestrol, hingga kencing manis. Sudah sering bolak-balik ke rumah sakit sejak 5 tahun lalu.
Kondisinya memburuk setelah istrinya yang memiliki riwayat penyakit sama, meninggal dunia mendahuluinya. Waktu itu, KKR 73 sempat diungsikan ke rumah anaknya sebelum jenazah istrinya dibawa pulang dari rumah sakit. Niat keluarga agar KKR 73 tidak kaget dan buat kondisinya semakin memburuk.
Namum, kondisi kesehatannya pun drop seketika mengetahui istrinya telah terbaring kaku. Di samping jenazah istrinya, sambil berbaring di kasur, KKR 73 sempat ngelantur.
"Istriku cantik, istriku sangat cantik..," kata Ferguso menirukan ucapan KKR 73.
Selang berapa waktu, KKR 73 dibawa ke RS IA Moeis Samarinda dengan kondisi lemas. Dia tak mau makan lantaran masih syok atas kepergian istri tercintanya itu.
Ferguso dan keluarga tidak percaya kematian KKR 78 itu karena Covid-19. Alasan itu diperkuat dengan adanya surat keterangan dari rumah sakit bahwa yang bersangkutan non-reaktif berdasarkan hasil rapid test.
"Karena rekam jejak perjalanan beliau juga tidak ada, tiba-tiba hasil swabnya dikatakan positif, saya rasa tidak mugkin" ujarnya.
Diketahui, swab pun dilakukan untuk mencari kepastian terjangkit virus pada 2 Juli 2020. Saat itu kondisi pasien memburuk dan memang dikategorikan sebagai Pasien dalam Pengawasan (PDP).
Hasilnya, Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kukar Martina Yulianti mengumumkan bahwa almarhum terkonfirmasi positif setelah hasil swab didapatkan pada 7 Juli 2020.
Parahnya, proses pemakaman KKR 78 diperlakukan seperti orang biasa, mulai dari proses pemulasaran hingga penguburannya. Kini, seluruh kontak erat ditracing dan diuji swab.
Ferguso menyayangkan hal itu. Menurutnya, Tim Gugus Tugas bisa saja melakukan ini secara senyap tanpa diumumkan ke publik. Dia berharap hasil swab para warga yang kontak erat dengan KKR78 tidak ada yang dinyatakan positif.
"Artinya jangan sampai masyarakat itu menjadi panik, yang mengakibatkan antibodi masyarakat itu juga ikut menurun," kata dia.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi