Dijelaskan oleh Psikolog Universitas Negeri Mulawarman (Unmul), Kalimantan Timur yang juga Koordinator Psikolog di Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Kota Samarinda Ayunda Ramadhani keadaan tersebut bisa dibilang kecenderungan sindrom psikosomatis namun dalam artian tidak menjadi gangguan kejiwaan karena masih kecenderungan.
Psikosomatis adalah gangguan tubuh yang disebabkan tekanan emosional dan psikologis yang berlebihan dalam mereaksi emosi. Psikosomatis dapat menimbulkan keluhan seperti jantung berdebar, maag, sakit kepala, sesak napas, dan lesu.
"Kalau hal ini kecenderungannya adalah psikomatis, wajar sekali ketika mendapat informasi tentang virus corona yang masif, karena ini reaksi emosional yang terjadi pada seseorang ditengah kondisi saat ini yang upnormal," sebut Ayunda Jumat (24/4/2020) tadi.
Dalam hal ini Ayunda menyarankan agar masyarakat bisa mereduksi dengan cara social distancing juga pada media sosial dan pemberitaan di media elektronik, cetak atau online. Salah satu caranya dengan menyaring informasi serta menyeleksi sumber pemberitaan tentang covid-19.
"Selain relaksasi seperti melakukan tarikan nafas panjang serta mulai menyemangati diri agar bisa melewati masa ini guna menenangkan diri, masyarakat juga bisa mereduksi dengan mulai memilah agar tak mendapat informasi hoaks dari covid-19 yang tersebar di berbagai portal online serta media sosial, atau jika sudah mulai lelah dengan informasi media di televisi bisa berkegiatan lain terlebih dahulu," ungkapnya
Aktivitas social distancing memang tak memungkiri bahwa masyarakat jadi sering membuka ponsel dan televisi mereka guna mendapatkan informasi tentang virus corona. Masyarakat perlu mendapat info yang valid agar tidak menambah rasa kepanikan dan kecemasan mereka.
"Masyarakat bisa menciptakan kegiatan sendiri dirumah, selain berinteraksi antar tetangga agar menimbulkan social responsibility seperti lewat media sosial, juga jika ada berita hoaks yang beredar masyarakat lain seperti media juga bisa mengklarifikasi dan counter terhadap itu agar tak terjadi kepanikan dan kecemasan berlebih serta mengurangi kecenderungan psikosomatis tadi," imbuh Ayunda.
Ayunda juga membuka ruang konsultasi di masyarakat dengan menggunakan website serta aplikasi guna mengurangi kecemasan dan kepanikan psikologis agar dapat mengurangi dampak psikologis di masa pandemi covid-19. "Saya juga membuka konsultasi lewat website dan aplikasi seperti himpi serta aplikasi puspaga, banyak yang bertanya bagaimana mengurangi rasa cemas dan panik menghadapi informasi covid-19," ucapnya.
Senada dengan Ayunda, Ketua IDI Kaltim Dr. dr. Nataniel Tandirogang menyebut kecemasan dan kepanikan memang wajar dirasakan oleh para masyarakat. Dari data yang terlihat setiap harinya covid-19 memang tak ada yang menyangka penyebarannya hingga seluas saat ini. "Saat virus ini berkembang di negara asalnya China, kita semua menyangka tak akan keluar, nyatanya penyebarannya sangat luar biasa bahkan Amerika dan Eropa kewalahan menangani wabah ini," ungkapnya.
Dokter Nataniel justru khawatir adanya rencana kegiatan baik pemerintah, elemen masyarakat dan organisasi kemasyarakatan yang membagikan bantuan sembako atau masker pada masyarakat bisa menimbulkan massa berkumpul, dirinya menyarankan harus memperhitungkan cara pembagian agar tidak menyebabkan kerumunan massa agar waktu social distancing yang diupayakan pemerintah bisa maksimal serta mendukung upaya para petugas medis yang bekerja.
"Dokter itu sebenarnya benteng terakhir, dokter akan bertugas ketika ada yang sakit. Sebenarnya garda terdepan untuk menghambat atau menghentikan penyebaran (covid-19) ini adalah masyarakat. Harus ada social responsibility, kita dorong dari media-media agar terus menyadarkan masyarakat agar taat pada aturan yang berlaku dan menegakkannya," jelas dokter Nataniel (*)
Penulis : Fairus
Editor:Aspian Nur