Hal tersebut dilakukan pasca diumumkannya dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang terpapar virus corona di Depok, Jawa Barat yakni ibu dan anak, yang saat ini telah diisolasi.
"Kami melakukan Sidak terkait ketersediaan masker dan sanitizer, jangan sampai isu virus corona ini meresahkan masyarakat. Dan ada oknum-oknum yang memanfaatkan kondisi kepanikan warga," ungkap Kanit Eksus Satreskrim Polresta Samarinda, Iptu Akhmad Wira disela-sela Sidak.
"Karena, ada saja oknum yang nakal dan menjual masker dan hand sanitizer dengan harga yang tak wajar," sambungnya.
Lebih lanjut kata dia, dari empat titik disidak, hanya satu toko yang menjual masker dan hand sanitizer, sedangkan satu toko lainnya hanya tersedia hand sanitizer.
Dan dua lainnya, ketersedian masker dan hand sanitizer berbagai merk tidak ada.
"Untuk stok masker dan hand sanitizer yang masih ada di jual dengan harga dua kali lipat, dari harga biasa, karena sudah mengalami kenaikan dari distributornya," ujarnya.
Ditambahkannya, pihaknya akan terus memantau apotek maupun suplayer alat kesehatan.
"Kalau misalnya ada kedapatan warga yang beli dalam jumlah banyak, untuk dijual kembali akan dilakukan penindakan sesuai dengan semestinya," bebernya.
Selain itu, juga bagi warga yang melakukan penjualan online, jika tidak sesuai dengan peruntukkan dan harga yang tidak masuk akal, pihaknya akan melakukan patroli cyber. "Iya, kami akan melakukan patroli cyber," pungkasnya.
Untuk diketahui masker merek Q-Frezz isi 50 lembar yang normalnya seharga Rp 50 hingga 70 ribu saat ini dijual hingga Rp 150 ribu.
Jenis lainnya, seperti N95 isi 20 lembar dijual per satuan seharga Rp 30 ribu, per kotaknya mencapai Rp 450 ribu.
Sedangkan hand sanitizer merek Aseptan Liquid dan gel, untuk harga normalnya Rp 60 hingga 75 ribu, sedangkan saat ini mencapai Rp 120 ribu hingga 150 ribu.
Penulis: Nancy
Editor: Desman Minang
Simak videonya*