Kepala Bagian Tata Usaha (TU) Kanwil Kemenag Kaltim H Abdul Hamid menjelaskan, berdasarkan hasil rukyatul hilal atau pemantauan hilal di Menara Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Samarinda oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Samarinda, posisi hilal berada di bawah ufuk.
"Kewajiban kami membuat pemantauan dan laporkan hasilnya ke Jakarta . Di Samarinda tidak bisa dilihat. Karena berdasarkan perhitungan, atau hisab, hilal berada pada posisi minus 0,6 derajat di bawah garis horizontal di bawah ufuk," ujarnya ditemui usai rapat bersama BMKG, MUI, perwakilan Ormas Islam dan tokoh masyarakat di kawasan Masjid Islamic Center, Senin (3/6/2019) petang.
Namun demikian, terang dia, tak terlihatnya hilal di Kota Samarinda bisa beda hasilnya dengan lokasi atau titik pantau di kota lain.
"Hasil dari sini, juga pemantauan di daerah lain se-Indonesia akan jadi bahan pembahasan di Sidang Isbat di Kemenag Jakarta. Ada faktor cuaca juga tidak terlihat," paparnya.
Kepala BMKG Stasiun Temindung Kota Samarinda Juli Budi Kisworo menjelaskan, meskipun secara teknis ia mengetahui bahwa hilal tak dapat dilihat, tapi persyaratan Kemenag untuk menentukan 1 Syawal, salah satunya melihat hilal.
"Jadi kami bawa alat untuk melihat hilal tersebut. Hilal ternyata masih di bawah ufuk, artinya bulan baru tidak bisa dilihat. Baik menggunakan alat teropong, maupun mata telanjang," paparnya.
Jadi, penetapan 1 Syawal 1440 H sepenuhnya menunggu sidang isbat di Kemenag.
"Jadi kita tunggu, nanti sidang di Jakarta , apakah daerah lain terlihat atau tidak," ungkapnya.[]
Penulis : Rusdi
Editor : Muh. Huldi