“Memang yang ada saat ini 18 unit dan 10-nya mengalami kerusakan parah. Ya, bisa dibilang hanya 50 persen saja yang bisa berfungsi maksimal, karena mobil tua dan rusak tadi,” ucapnya.
Dijelaskan lebih jauh, kerusakan damkar bukan hanya tangki bocor, tetapi ada juga kampas habis dan rem blong. Kata dia, meski kondisi damkar parah, pada saat kejadian kebakaran kendaraan itu tetap digunakan, tetapi tidak bisa melaju dengan cepat. “Ya, kami beruntungnya dan terbantu adanya tim balakar. Pasalnya mobil yang digunakan tidak bisa melaju dengan cepat menuju lokasi kebakaran,” terangnya.
Bahkan, kata dia, kendaraan damkar rata-rata berusia puluhan tahun. Sehingga, memang layak harus diganti. Namun, sayang setiap pengajuan selalu ditolak oleh Pemkot dengan alasannya keterbatasan anggaran. Padahal, kebutuhan mobil damkar ini sangat penting dibandingkan dengan usulan perjalanan dinas atau diklat.
Dia mengaku, sudah tiga tahun belakangan ini diusulkan ke Pemkot. APBD 2019 pun mereka kembali mengusulkan. Diharapkan bisa setujui, karena kondisi mobil damkar sudah banyak yang tidak layak. “Tahun 2019, kami mengajukan 3 unit mobil damkar. Mudah-mudahan saja disetujui meskipun hanya satu unit saja,” harapnya.
Demi usulan mobil damkar disetujui, pihaknya harus memangkas sejumlah kegiatan sosialisasi. Padahal kegiatan ini, sangat penting untuk mengajak dan mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dan waspada serta pencegahan apabila terjadi kebakaran. “Ngga apa-apa kalau anggaran sosialisasi dipangkas, agar kami bisa menambah unit damkar. Kalau kegiatan sosialisasi bisa bekerjasama dengan kecamatan atau kelurahan. Bisa juga melalui CSR,” tandasnya. (sn318)