Dukungan tersebut disampaikan secara langsung saat dirinya menerima massa aksi di Kantor Gubernur Kaltim pada Kamis, (21/5/2026) lalu.
Di hadapan para demonstran, Rudy Mas’ud menyampaikan bahwa dirinya mendukung penggunaan hak angket sebagai bagian dari mekanisme demokrasi. “Saya mendukung hak angket,” ujar Rudy Mas’ud di hadapan peserta aksi.
Pernyataan itu kemudian memunculkan beragam respons dari kalangan akademisi dan pengamat politik.
Pria yang akrab disapa Castro tersebut menilai ada dua kemungkinan yang dapat dibaca dari pernyataan gubernur tersebut. Menurutnya, kemungkinan pertama adalah dukungan itu hanya bersifat politis untuk meredam tekanan massa dan membangun simpati publik.
“Bisa jadi itu hanya sebatas gimik politik untuk menenangkan demonstran dan mengambil hati masyarakat,” ujarnya pada Minggu (24/5/2026).
Namun di sisi lain, Castro juga membuka kemungkinan pernyataan Rudy Mas’ud memang disampaikan secara serius. Meski demikian, ia mempertanyakan konsistensi dukungan tersebut apabila tidak diikuti sikap yang jelas dari Partai Golkar sebagai partai yang menaungi Rudy Mas’ud.
“Kemungkinan kedua, pernyataan itu memang serius. Tetapi persoalannya, apakah partainya juga memiliki sikap yang sama atau justru berbeda arah,” katanya.
Menurutnya, hingga saat ini sikap Partai Golkar terkait isu hak angket masih belum terlihat tegas. Kondisi tersebut membuat publik dinilai sulit mempercayai komitmen yang disampaikan gubernur.
Ia menegaskan, dukungan politik tidak cukup hanya disampaikan melalui pernyataan lisan, tetapi juga harus dibuktikan melalui langkah konkret dan keselarasan sikap partai.
“Bagaimana publik bisa yakin gubernur mendukung hak angket jika partainya sendiri tidak menunjukkan langkah yang jelas. Karena itu saya melihat ini lebih condong sebagai manuver politik atau gimik,” tuturnya.
Isu hak angket sendiri belakangan menjadi perhatian publik di Kaltim dan memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat sipil, aktivis, hingga kalangan akademisi.
Dukungan maupun penolakan terhadap wacana tersebut diperkirakan masih akan berkembang dalam dinamika politik daerah ke depan.
Editor: Erwin