Momen ini bukan sekadar bentuk penghormatan biasa. Ada sisi emosional yang mendalam di baliknya. Dua malam sebelum ziarah, Aulia mengaku bermimpi bertemu almarhum Junaidi.
Dalam mimpinya, mereka keluar dari masjid bersama-sama, berjabat tangan, dan berpelukan hangat seperti kebiasaan semasa hidup Junaidi.
“Beliau bilang ke saya, ‘Sanak, semangat yoh. Itu memang sapaan khas kami berdua dengsanak. Saya masih bisa dengar suaranya dengan jelas dalam mimpi itu,” bebernya, Minggu (13/4/2025).
Setelah itu, dalam mimpi yang terasa nyata, almarhum berjalan menuju sebuah ambulans. “Saya berdiri mematung. Rasanya seperti betul-betul ditinggalkan,” lanjutnya.
Maka sebelum menjalani kegiatan, Aulia meminta timnya untuk menemaninya berziarah. Ia ingin memulai harinya dengan mengunjungi bukan sekadar seorang teman, tapi “Dengsanak” saudara sejiwa yang telah lebih dulu pergi.
Kenangan bersama almarhum Junaidi tak terhitung jumlahnya. Namun bagi Aulia, ada satu momen yang begitu membekas, hari terakhir sebelum sahabatnya wafat.
“Hari itu sebenarnya saya harus terbang ke Jakarta. Pesawat saya jam 17.30 dari Samarinda. Tapi jam 3 sore, saya masih bersama beliau. Seperti ada sesuatu yang menahan saya,” ujarnya.
Yang terjadi hari itu sangat tidak biasa. Mereka salaman tiga kali, bahkan pelukan pun tiga kali.
“Kami tidak pernah sampai seperti itu sebelumnya. Pelukan berkali-kali, seperti berat sekali untuk berpisah. Mungkin memang sudah jadi pertanda, ya,” ucapnya.
Bagi Aulia, almarhum Junaidi adalah lebih dari teman tetapi saudara seperjuangan. “Beliau bukan sekadar sahabat. Sudah seperti saudara. Bahkan lebih dari saudara. Kami saling percaya, saling dukung, dan saling jaga,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Aulia juga berziarah ke makam almarhum Syaukani Hasan Rais, sosok yang dikenang sebagai pelopor otonomi daerah di Kukar dan akrab disapa Pak Kaning.
Editor: Erwin