Mencari pemimpin terbaik yang jujur, adil dan label baik lainnya yang diharapkan semua orang ditautkan ke pundak presiden, wakil presiden serta wakil rakyat yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dan DPRD kabupaten juga kota yang jumlahnya ratusan orang untuk dipilih.
Dibalik suksesnya Pemilu 2024, banyak kisah terselip terutama kepada mereka yang bersinggungan langsung dengan proses pemilihan tersebut yang bekerja dengan bekal bimbingan teknis serta pelatihan, yaitu Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).
Mereka yang terdiri dari satu ketua dan enam anggota merupakan ujung tombak suksesnya Pemilu 2024 ini karena dibentuk untuk melaksanakan kegiatan mulai dari menerima dan mempersiapkan logistic dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, menyiapkan tempat serta hal-hal terkecil yang berkaitan dengan pemilihan suara.
Banyak cerita yang dialami para KPPS saat bertugas di Pemilu 2024 dan jangan tanyakan waktu kerja mereka karena tak lazim, bertugas pagi selesai pagi, bergadang bahkan sampai ada yang tiga hari.
“Setelah dilantik dan mengikuti bimtek (bimbingan teknis) satu bulan jelang Pemilu berlangsung, kami sudah bekerja, mempersiapkan segala sesuatunya,” ujar Ivan, Ketua KPPS 11 di Kelurahan Bukit Pinang, Samarinda Ulu.
Bersiap sejak pukul 06.30 WITA di hari pencoblosan, KPPS pun memulai tahapan demi tahapan sesuai arahan dari Panitia Pemungutan Suara (PPS) tingkat kelurahan. Warga yang datang pun menyalurkan hak suara mereka masing-masing. Uniknya, ada warga yang setelah mencoblos tertinggal “contekan” di dalam bilik suara. Contekan tersebut berupa tulisan yang mengarahkan si pencoblos untuk memilih calon tertentu.
Selain itu ada juga warga yang kebingungan karena paku untuk mencoblos tiba-tiba hilang, yang belakangan diketahui terselip bahkan ada warga yang sempat hendak membawa pulang sebelum akhirnya diketahui petugas KPPS.
“Yang tidak kami duga, penghitungan suara berlangsung hampir 24 jam dan sampai kotak suara diantar kekelurahan hampir 30 jam. Setelah selesai pencoblosan jam satu siang kami rehat setengah jam setelah itu mulai menghitung suara, karena banyaknya surat suara akhirnya penghitungan baru selesai jam tiga dini hari. Kami masih beruntung lebih cepat karena ada TPS yang harus menghitung lagi esok harinya karena sudah terlalu lelah tak sanggup melanjutkan,” papar Ivan.
Saat penghitungan pun ada hal tak diduga, dimana tengah malam datang “saksi bayangan” yang diminta pihak tertentu untuk memantau dan meminta data dan itu tidak hanya sekali tapi berkali-kali dengan orang yang berbeda-beda. Saat bertugas KPPS ditemani para saksi yang dipilih partai.
Ada yang datang hanya memfoto hasil penghitungan ada juga yang meminta salinan surat suara namun tak diberi oleh KPPS. “Karena tidak boleh sembarangan memberikan fotokopi Salinan, bisa-bisa kami yang kena sanksi,” tegas Ivan.
Penghitungan yang lama ada pada kertas suara DPR RI dan para calon legislative kota yang jumlahnya ratusan orang, belum lagi menghitung harus cermat jangan sampai ada selisih antara kertas suara dengan hitungan manual yang memakan waktu sekitar dua jam bahkan lebih. Yang tercepat penghitungan suara pada kertas suara presiden dan wakil presiden. “Kami berharap ke depan ad acara lebih praktis dalam penghitungan suara ini supaya tidak memakan waktu puluhan jam,” harap Ivan.
Editor: Aspian Nur