Pengamat Politik, Azwar Aswin mengatakan saat ini memang sudah banyak nama yang berhembus untuk mengikuti kompetisi Pilkada 2024 mendatang. Bahkan, kata dia bisa saja tokoh-tokoh yang kini belum terdengar namanya, nanti kemungkinan dapat menjadi wakil dari para calon yang ada ini.
Dari beberapa nama yang berhembus, menurut Azwar, kelak berpotensi besar akan ada pertarungan head to head pada pergelaran Pilkada nanti antara Isran dan Harum. Alasannya, ia melihat Isran saat ini sebagai petahana, dan kalangan lainnya akan menganggap orang yang juga berpeluang menang itu Harum maka akan mendapat dukungan.
"Keduanya pun kondisinya saat ini sama-sama kuat," kata Azwar, Minggu (18/4/2021) malam tadi. Menurutnya, kondisi perpolitikan saat ini cukup berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia mencontohkan, seperti di Kutai Kartanegara dulu yang bertarung bisa sampai enam kandidat, tapi kini justru hanya melawan kotak kosong.
"Makin ke sini itu makin sedikit, diduga pimpinan partai malas juga mengambil resiko," ungkapnya. Sementara nama lainnya, seperti Hadi Mulyadi, Safaruddin, diperkirakan dapat gabung ke dalam dua poros yang ada itu.
Ditambah dengan adanya nama baru yang kini menjabat kepala daerah, seperti Ardiansyah Sulaiman dan Andi Harun. Diketahui, keduanya memiliki kans yang cukup besar di masing-masing wilayahnya. Apalagi Andi Harun merupakan Wali Kota Samarinda dan juga ketua Partai Gerindra Kaltim.
Sedangkan, Ardiansyah Sulaiman adalah Bupati Kutai Timur (Kutim) tokoh potensial PKS yang sebelumnya juga merupakan Wakil Bupati Kutim mendampingi Isran Noor dulu. Ia coba menggambarkan bagaimana konstelasi politik kedepan.
Misalnya seperti potensi partai Golkar dan PDIP yang akan menyatu. Mengingat, kedua pimpinan partai itu saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI, dan sama-sama berdarah Sulawesi. "Ini pun bisa berpotensi menyatu," ungkapnya.
Sedangkan, mengenai penggabungan Isran dan Harum, dikatakan Azwar hal itu cukup berat. Diketahui, keduanya itu pernah menjadi rival saat memperebutkan kursi nomor satu dari Golkar Kaltim. "Secara politik memang dinamis, tapi secara umum itu akan susah disatukan," tukasnya
"Jadi gambarannya, kuning sama merah menyatu. Sedangkan Isran berpotensi bisa dengan Hadi ataupun Ardiansyah Sulaiman," sambung alumnus Fisip Unmul ini. Azwar mengaku, di dalam dunia perpolitikan memang susah diduga dan ditebak.
Penulis : */Faishal Ays
Editor : Bambang Irawan