Dalam upaya menjaga ketersediaan pasokan pangan agar mengantisipasi inflasi, Calon nomor urut 1 Basri Rase menyampaikan akan berkomitmen memantapkan ketersediaan pangan.
Caranya dengan perluasan lahan untuk persawahan di Bontang Lestari, dimana melalui TMD telah mencetak sawah seluas 25 hektar.
"Bahkan mudahan kedepan bisa dikembangkan hingga 50 hektar," kata Basri.
Disamping itu tentu akan mendorong masyarakat meningkatkan kesadaran menggerakkan pembentukan-pembentukan dalam hal kluster pertanian, kelompok tani, bukan hanya di kebun tetapi juga halaman rumah.
Basri berkeyakinan jika diamanahkan, pasokan pangan di Kota Bontang justru akan tetap stabil, karena akan melakukan MoU dengan daerah luar dalam rangka ketahanan pangan termasuk peningkatan masyarakat untuk sadar dalam masalah pangan, tentu akan menjadi program prioritasnya.
Sementara itu, calon nomor urut 2 Neni Moerniaeni mengakui memang Bontang bukanlah Kota agraria melainkan Industri. Namun selama masa Pemerintahannya tidak pernah terjadi inflasi, karena harga pasokan pangan selalu dipantau dilapangan terkhusus jika terjadi lonjakan harga di pasar.
Selain itu, hal yang sudah dilakukannya pun telah memiliki gudang pangan di Bontang Lestari, membangun Kampung Tangguh yang didalamnya terdapat 30 hektar lahan persawahan.
Ketahanan pangan ini menjadi komitmen Kota Bontang. Karena berdasarkan urusan konkuren, pertanian dan pangan merupakan urusan pilihan.
"Tetapi kami merasa ini wajib bahwa urusan pertanian pangan menjadi urusan utama pemerintah Bontang," terangnya.
Kemudian, Gerakan Kampung Tangguh, dimana setiap rumah ditanam pohon menggunakan pot itu juga menjadi komitmen Pemerintah.
Untuk menyediakan pasokan pangan, Neni mengatakan hingga saat ini sudah 2 Kampung Tangguh yang dibentuk, diantaranya di Bontang Lestari dan Berbas Tengah.
"Walaupun kita sadari pasokan pangan di Bontang adalah hasil dari Kutai Timur dan Kutai Kartanegara," ungkapnya.
Penulis: Faishal Alwan Yasir
Editor : Rusdi