Berdasarkan hasil sigi dari lembaga Eskom Kreatif, lebih 60 persen dari 500 responden menyebutkan Rita masih punya pengaruh di Kukar.
Dalam perspektif komunikasi politik, pengamat dari Universitas Mulawarman Budiman menyebutkan, ini adalah pola dan bagian dari strategi politik. Bukan hanya pengaruh Rita, namun juga pengaruh almarhum Syaukani HR masih melekat bagi para pemilih .
"Ketika Rita identik dengan Syaukani maka orang tidak bisa pisahkan. Apa yang ditanam dulu itu yang diingat orang, Syaukani dulu itu kan orang mintanya satu dikasih 10," ujar Budiman kepada media, Jumat (25/10/3019).
Namun bisa dilihat ke depannya, sejauh mana para kandidat mampu meyakinkan publik bahwa mereka identik dengan tokoh pendahulu itu. Bentuknya, lanjut Budiman, bisa dengan menampilkan video lengkap dengan statement dukungan kepada salah satu kandidat.
Politik dalam Pilkada tahun ini sangatlah dinamis, kesempatan para kandidat untuk maju sangatlah merata. Hal itu, menurut Budiman, juga dikarenakan tidak ada keluarga almarhum Syaukani yang maju. Jadi, semua kandidat punya peluang yang sama.
Selain itu, beberapa kandidat juga mengaku telah menyiapkan ongkos politik di Pilkada kali ini. Mulai dari anggota Komisi II DPRD Kukar Ria Handayani yang mempersiapkan Rp 50 miliar, Ketua DPD Hanura Suriani dengan Rp50 miliar, hingga Novita Ikasari yang menyiapkan Rp100 miliar.
Nominal besar itu, lanjut Budiman, bisa terlihat realistis jika dikaitkan dengan wilayah Kukar yang sangat luas. Ini juga bentuk perang psikologis antakandidat.
Hanya saja, Budiman mengingatkan, statement soal ongkos politik ratusan miliar itu harus jadi perhatian Bawaslu. Lembaga ini bisa bergerak untuk meminimalisir bahkan meniadakan politik uang jika sudah masuk ke tahapan pilkada.
"Jika ada yang menyiapkan hingga Rp100 miliar, saya tidak tahu itu persiapannya untuk seperti apa. Tapi setidaknya dengan adanya statement seperti itu, Bawaslu ketika masuk tahapannya nanti bisa bergerak," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi