“Dulu, siapa yang mau menjadi kepala desa, enggak ada yang mau, sekarang itu menjadi tren dan fenomenal sekali. Salah satunya memang karna dorongan dari dana yang dikelola juga luar biasa, karena zaman saya mendampingi desa itu dulu rata-rata kepala desanya ya, mohon maaf, secara pengetahuan mereka sangat minim namun dari sisi ketokohan berpengaruh,” kata Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kukar itu.
Dia menyebut, dari sekitar 180 desa di Kukar ada yang mengelola dana mulai Rp800 juta bahkan milyaran setiap desanya.
Lanjut Kamal, ada temannya yang ikut berkompetisi di 5 desa dengan umur di bawah 35 tahun. Uniknya, hampir semua lawannya juga dari kaum muda.
“Zaman dulu itu, umur segitu, enggak kepikiran untuk menjadi kepala desa. Sekarang di Dinas Pemdes banyak sekali anak muda yang berkonsultasi hendak menjadi kepala desa, saya kira itu harus menjadi perhatian sih,“ ungkapnya.
Namun, bukan berarti tidak ada hambatan. , Para pemuda tersebut akan dihadang dengan sistem poin yang dibuat oleh pemerintah. Yang mana dari segi umur, pendidikan, tempat asal dan pengalaman di pemerintahan akan memberikan bobot banyak bagi calon tertentu.
“Yang muda-muda ini rata-rata pasti terkendala dengan poin, misalkan umur di bawah 35 otomatis poinnya cuman satu, kalau 36 ke atas poinnya dua. Juga pengalaman dalam pemerintahan bisa menjadi poin, itu saja sudah agak repot,” tutupnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : M.Huldi