Sejumlah sumber air baku milik Perumda AMDT saat ini terus menyusut akibat kemarau, bahkan telah terdapat WTP yang berhenti beroperasi.
Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid, membeberkan prediksi BMKG memperkirakan musim hujan akan berlangsung di bulan November 2026 hingga Februari 2027. Setelah itu, akan masuk musim kemarau panjang yang perlu diantisipasi.
“Kita punya waktu hanya empat bulan untuk mengamankan posisi air baku kita. Jangan sampai kita ketinggalan memanfaatkan musim penghujan yang akan masuk November sampai Februari,” beber Rasyid, Kamis (29/10/2026).
Ia mengungkapkan, kondisi per-27 Oktober 2026, hampir 70 persen layanan Perumda sudah tidak berfungsi. Banyak sumber air baku mengalami penyusutan, sehingga mengancam keberlangsungan distribusi air bersih kepada masyarakat.
Salah satu wilayah yang terancam mengalami pemberhentian layanan adalah Kecamatan Babulu. Pasalnya, cadangan air baku di wilayah tersebut menyusut.
“Babulu akan kita off-kan dalam minggu ini karena sudah sangat menyusut,” ucapnya.
Selain itu, Kecamatan Waru mengalami hal serupa. Rasyid mengatakan, kondisi embung Waru mulai mengkhawatirkan, yang biasanya ketinggian air mencapai tiga meter kini hanya 1,27 meter. Penyusutan ini dikarenakan tingginya penggunaan air. Sebab air tersebut juga menyuplai ke wilayah Petung, hingga Kecamatan Penajam, melalui jaringan interkoneksi.
“Kalau kita tidak ada tambahan air yang memadai, Waru juga berpotensi mati total,” akunnya.
Sedangkan, Embung Lawe-lawe tak kalah prihatinkan. Ia memperkirakan layanan sudah mengalami penurunan hingga sekitar 90 persen, dengan pengaliran air hanya sekitar dua jam per hari.
Disusul, Sotek yang sudah terhenti selama empat bulan. Dikatakannya, Maridan mempunyai tiga embung utama yang tersedia, hanya saja embung II dan embung III yang masih dapat dimanfaatkan, sedangkan embung I sudah tidak beroperasi.
Rasyid membeberkan, untuk pasokan air di Kecamatan Sepaku memanfaatkan air buangan dari Bendungan Sepaku Semoi. Air dari bendungan tersebut juga dimanfaatkan untuk kebutuhan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) dan dialirkan menuju intake Sepaku.
Sehingga, Perumda AMDT PPU meminta dukungan pemerintah daerah dan DPRD PPU untuk mengamankan ketersediaan air selama musim hujan. Permintaan tersebut telah disampaikan melalui surat kepada pimpinan dan selir anggota DPRD PPU setelah pihaknya berdiskusi dengan Bupati PPU, Mudyat Noor.
Adapun kegiatan meliputi normalisasi bendung Babulu, normalisasi bendung Waru, normalisasi embung Lawe-lawe, normalisasi embung Sotek, serta pembangunan pintu air di Lawe-lawe.
“Lima kegiatan ini yang bisa, mengamankan posisi PPU manakala kondisi kemarau itu benar terjadi,” tandasnya.
Editor: Erwin
Sejumlah sumber air baku milik Perumda AMDT saat ini terus menyusut akibat kemarau, bahkan telah terdapat WTP yang berhenti beroperasi.
Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid, membeberkan prediksi BMKG memperkirakan musim hujan akan berlangsung di bulan November 2026 hingga Februari 2027. Setelah itu, akan masuk musim kemarau panjang yang perlu diantisipasi.
“Kita punya waktu hanya empat bulan untuk mengamankan posisi air baku kita. Jangan sampai kita ketinggalan memanfaatkan musim penghujan yang akan masuk November sampai Februari,” beber Rasyid, Kamis (29/10/2026).
Ia mengungkapkan, kondisi per-27 Oktober 2026, hampir 70 persen layanan Perumda sudah tidak berfungsi. Banyak sumber air baku mengalami penyusutan, sehingga mengancam keberlangsungan distribusi air bersih kepada masyarakat.
Salah satu wilayah yang terancam mengalami pemberhentian layanan adalah Kecamatan Babulu. Pasalnya, cadangan air baku di wilayah tersebut menyusut.
“Babulu akan kita off-kan dalam minggu ini karena sudah sangat menyusut,” ucapnya.
Selain itu, Kecamatan Waru mengalami hal serupa. Rasyid mengatakan, kondisi embung Waru mulai mengkhawatirkan, yang biasanya ketinggian air mencapai tiga meter kini hanya 1,27 meter. Penyusutan ini dikarenakan tingginya penggunaan air. Sebab air tersebut juga menyuplai ke wilayah Petung, hingga Kecamatan Penajam, melalui jaringan interkoneksi.
“Kalau kita tidak ada tambahan air yang memadai, Waru juga berpotensi mati total,” akunnya.
Sedangkan, Embung Lawe-lawe tak kalah prihatinkan. Ia memperkirakan layanan sudah mengalami penurunan hingga sekitar 90 persen, dengan pengaliran air hanya sekitar dua jam per hari.
Disusul, Sotek yang sudah terhenti selama empat bulan. Dikatakannya, Maridan mempunyai tiga embung utama yang tersedia, hanya saja embung II dan embung III yang masih dapat dimanfaatkan, sedangkan embung I sudah tidak beroperasi.
Rasyid membeberkan, untuk pasokan air di Kecamatan Sepaku memanfaatkan air buangan dari Bendungan Sepaku Semoi. Air dari bendungan tersebut juga dimanfaatkan untuk kebutuhan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) dan dialirkan menuju intake Sepaku.
Sehingga, Perumda AMDT PPU meminta dukungan pemerintah daerah dan DPRD PPU untuk mengamankan ketersediaan air selama musim hujan. Permintaan tersebut telah disampaikan melalui surat kepada pimpinan dan selir anggota DPRD PPU setelah pihaknya berdiskusi dengan Bupati PPU, Mudyat Noor.
Adapun kegiatan meliputi normalisasi bendung Babulu, normalisasi bendung Waru, normalisasi embung Lawe-lawe, normalisasi embung Sotek, serta pembangunan pintu air di Lawe-lawe.
“Lima kegiatan ini yang bisa, mengamankan posisi PPU manakala kondisi kemarau itu benar terjadi,” tandasnya.
Editor: Erwin