Itu artinya kalau tak ingin terlempar dari posisi 10 Besar dari pada pesta olahraga multievent empat tahunan tersebut, kerja keras seluruh pihak harus dilakukan demi menambah kekuatan.
Terkait hal itu, Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKOP) Indonesia bersama KONI Kaltim juga Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) Kaltim membahasnya bersama pada Kamis (27/2/2025) hari ini.
Berlangsung di Kolam Ulin Arya Jalan PM Noor Samarinda, pertemuan berlangsung hangat. Pembina LeKOP Indonesia Achmad Husry menjelaskan kalau pertemuan tersebut memang membahas tentang olahraga di Kaltim kedepan.
“Karena ada cerita darurat atlet, secara dini bagus dibicarakan untuk teknis, politis dan yuridis juga mengingat olahraga itu tidak bisa terlepas dari kebijakan-kebijakan pemerintah daerah,” kata Husry kepada Korankaltim.com usai kegiatan siang tadi.
Menanggapi isu DBON yang dianggap bermasalah, tetapi mereka sudah melakukan pembinaan usia dini, dirinya meminta untuk kembali dibicarakan secara tenang dan damai.
“Supaya Kaltim tidak kehilangan potensi yang ada. Sayang karena sudah ada investasi disana berupa atlet berprestasi yang bisa dimaksimalkan untuk menambah kekuatan menuju PON di NTB dan NTT. Beberapa tahun dibina oleh DBON, sudah keluar uang tapi sudah terlihat potensinya,” sebut Husry yang juga mantan ketua umum Pengprov PJSI (judo) Kaltim ini.
Dari banyaknya prestasi yang dihasilkan atlet DBON itu harus disambut dan dipersiapkan lebih matang untuk KONI kedepan apalagi Kaltim kehilangan banyak atlet berprestasi yang hanya tersisa sekitar 20 persen, karena itu regenerasi sebenarnya sudah disiapkan oleh DBON Kaltim.
“Kerja sama ini (KONI-DBON) saya rasa bagus, meskipun secara politis dan yuridisnya perlu dibicarakan. Sayang juga, dari hari ke hari dan tahun ke tahun kita ingin olahraga Kaltim berjaya,” tuturnya.
Terpisah, Ketua KONI Kaltim Rusdiansyah Aras menyambut baik tak hanya DBON, tapi KONI juga menyampaikan kegelisahan mereka terkait minimnya jumlah atlet saat ini.
“Kami sudah menyampaikan kegelisahan, yang pertama darurat atlet yang sudah kami sampaikan, kedua potensi atlet yang ada di usia dini,” ujar Rusdi.
Prestasi ditegaskan Rusdi tidak langsung jadi, butuh waktu. Mungkin di PON XXII mendatang atlet-atlet usia dini di DBON Kaltim masih belum bisa diturunkan. “Tetapi di PON selanjutnya kalau itu tidak digerakkan dan tidak dibina, saya pikir kita tidak bisa berharap banyak,” tegas Rusdi.
Apalagi kompetisinya jelas, latihannya juga jelas dengan pelatih yang membuat program terbaik Sehingga menurutnya sinergi antara KONI Kaltim dengan DBON sangat diperlukan.
Kepala Sekretariat DBON Kaltim Zairin Zain menambahkan, setelah ini akan membahas masalah terkait keberlanjutan DBON setelah sebelumnya gempar dengan isu dibubarkan.
“Sekarang kami masih melanjutkan kepengurusan DBON sampai bulan Maret, setelah itu kegiatan akan ditarik oleh Dispora secata langsung. Kami tidak tahu hasil yang ada nanti,” sebut Zairin.
Namun, Zairin menegaskan pihaknya tetap pada posisi mempertahankan prestasi atlet bahkan permintaan dari orangtua atlet juga tak ingin akademi dibubarkan. Dengan prestasi yang sudah diraih, Zairin menyayangkan potensi dan prestasi para atlet muda ini kedepannya tidak maksimal.
“Atlet-atlet yang ada di Akademi DBON Kaltim sudah berprestasi di tingkat nasional, mulai dari cabang olahraga balap sepeda, panahan, karate, taekwondo dan cabang olahraga lainnya. Potensi yang ada pada atlet usia dini itu bisa jadi tumpuan Kaltim di masa mendatang, terutama di PON,” pungkas Zairin.
Editor: Erwin