"Ini bukti kegagalan KONI dalam menjalin komunikasi yang harmonis dengan stake holdernya. Pencabutan data atlet dari KONI oleh cabor juga bagian dari komunikasi yang tidak jelas antara KONI dan cabor," kata Sulton Fahrudin, Minggu (9/10/2022).
Menurutnya, KONI sebagai induk olahraga dan tempat cabor bernaung harus menjadi bapak dan pelindung yang baik. Apalagi KONI dan cabor memiliki program yang harus dijalankan, salah satunya pembinaan atlet.
"Bila program-program menjelang Porprov tidak jalan akibat dana hibah tidak jelas, maka KONI wajib membangun komunikasi yang harmonis dengan Pemkot," ujarnya.
"Dengan keputusan Pemkot tidak menurunkan tim Porprov, artinya KONI tidak mampu menjalin komunikasi yang baik dengan pemkot," sambung Sulton.
Sehingga dia menyimpulkan KONI pada periode ini gagal. Mengingat upaya meraih puncak prestasi tertinggi bagi KONI di kabupaten/kota adalah melalui ajang Porprov. Menjadi sebuah prestise atau kebanggaan apabila menyabet banyak medali.
"Gagal (ikut Porprov), apalagi jadi pengurus KONI. Saya pikir mundur adalah jalan terbaik, sehingga bisa segera mencari pengayom cabor yang mampu menjalin komunikasi baik dengan pemerintah," tegasnya.
"Bukannya saya dulu pernah mewanti-wanti cabor untuk mencari figur ketua yang mampu berkomunikasi dengan eksekutif dan legislatif," tandas Sulton yang pernah dua periode menjadi pengurus KONI Balikpapan.
Penulis: Hendra
Editor: Maruly Zainuddin