Namun suporter dan penggila bola sangat menyayangkan karena turnamen ini dilangsungkan tanpa penonton dengan alasan upaya bersama pencegahan Covid-19 di Kukar khususnya di Kota Raja.
Hal ini pula yang membuat Ketua Askab PSSI Kukar Ardinansyah kecewa. Dia menyebut pemangku kebijakan tebang pilih dalam menerapkan aturan prokes bahkan terkesan menganaktirikan Askab PSSI Kukar yang jelas-jelas memiliki misi pembinaan putra daerah.
"Kenapa cuma sepak bola yang diberikan aturan tanpa penonton. Expo di PKM (Putri Karang Melenu) Tenggarong Seberang kok tidak, ada ribuan orang yang hadir di acara itu. Kenapa hanya kami yang tidak boleh mendatangkan penonton?,” kata Haji Nan, sapaan akrab Ardinansyah kepada Korankaltim.com, Minggu (16/1/2022) hari ini.
Selain membandingkan acara Explorer Festival Budaya di PKM, Haji Nan juga mengambil contoh lain seperti gelaran acara yang berlangsung baru-baru ini di Obyek Wisata Tanjung Sarai, Desa Kedang Murung Kecamatan Kota Bangun.
Acara tradisional balap ketinting yang dihadiri langsung Bupati Kukar Edi Damansah juga dipenuhi ribuan pengunjung.
“Tolonglah jangan tebang pilih dalam penerapan aturan. Kalau kami tidak boleh, kegiatan lain juga harus sama-sama tanpa penonton atau pengunjung. Ini kenyataan di lapangan hanya kami yang diperlakukan seperti ini (tanpa penonton) kegiatan lainnya tidak diperlakukan sama, kami seperti anak tiri saja,” paparnya.
Dirinya menegaskan, Askab Kukar bukan ingin menentang aturan yang berlaku, terutama melanggar protokol kesehatan terkait penyebaran Covid-19. Namun jika harus membandingkan, dia mengatakan potensi penyebaran corona menonton sepak bola lebih kecil dibanding kegiatan seperti Expo di PKM.
“Pada intinya kami juga tidak meminta diberikan akses 100 persen penonton. Minimal diberi kelonggaran boleh ditonton berapa persen dari kapasitas Rondong Demang. Toh di sini ada bangkunya, pasti tidak berjubel seperti Expo dan acara di Tanjung Sarai pekan lalu,” pungkas Haji Nan.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur