Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan pentingnya membangun pola pikir kritis dalam menghadapi perkembangan AI agar teknologi tidak justru mengekang manusia.
“Critical thinking membuat kita mempunyai kesadaran sebagai manusia terhadap teknologi. Ini penting supaya teknologi tidak memperbudak kita,” katanya dikutip dari Antaranews, Minggu (26/10/2025).
Melalui pembangunan pola pikir yang kritis, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan AI untuk hal-hal produktif dan tidak merugikan pihak lain. Menurut Nezar, kesadaran tersebut merupakan motor dan energi kehidupan masyarakat di era digital.
Peta Jalan AI Nasional yang tengah disusun juga telah dikonsultasikan kepada publik. Salah satu acuan utama yang digunakan adalah metodologi readiness assessment milik UNESCO, guna memastikan kebijakan AI nasional sejalan dengan standar global.
Selain membangun kerangka etika dan regulasi, Kemkomdigi juga menyoroti dua tantangan besar dalam pengembangan teknologi di Indonesia, yakni kecepatan internet yang masih rendah dan kekurangan talenta digital.
“Malaysia itu sudah hampir 100 mbps, kita berada di 36,7 mbps dan ini memang membutuhkan satu program akselerasi supaya kecepatan internetnya semakin baik,” ucapnya.
Ia menambahkan, Indonesia masih membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030, sementara negara ini memiliki potensi besar menyumbang 40 persen pertumbuhan ekonomi digital ASEAN pada tahun yang sama.
“Masalah ini menjadi agenda dan perhatian pemerintah sekarang dan tentu saja ini tidak bisa dilakukan sendiri. Ini harus dilakukan secara bersama-sama dengan kolaborasi,” pungkasnya. (*)
Editor: Erwin