Hampir setiap tahun faktor ini menjadi alasan utama pasangan mengajukan perceraian. “Kalau melihat data perkara yang kami tangani, penyebab perceraian yang paling banyak masih didominasi perselisihan dan pertengkaran yang berlangsung terus-menerus,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Kamis (23/7/2026) sore.
Selain perselisihan dan pertengkaran, penyebab perceraian hingga Mei 2026 juga meliputi meninggalkan salah satu pihak sebanyak 17 perkara, di hukum penjara sebanyak 6 perkara, judi sebanyak 2 perkara. Serta KDRT, cacat badan, murtad, dan poligami masing-masing 1 perkara. Secara bulanan, perkara perceraian yang diputus pada 2026 sebanyak 44 perkara di Januari, Februari 16 perkara, Maret 47 perkara, April 41 perkara dan 18 perkara hingga Mei. Tren tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Sepanjang 2025 pihaknya menangani 649 perkara perceraian.
Dari jumlah itu, 493 perkara dipicu oleh perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, disusul meninggalkan salah satu pihak sebanyak 123 perkara, dihukum penjara 21 perkara, KDRT 5 perkara, murtad, ekonomi, dan kawin paksa masing-masing 2 perkara, serta judi dan mabuk masing-masing 1 perkara. Setiap perkara perceraian yang masuk terlebih dahulu diupayakan penyelesaiannya melalui mediasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun, apabila mediasi tidak berhasil dan alasan perceraian terbukti memenuhi ketentuan hukum maka proses persidangan dilanjutkan hingga putusan. “Kami selalu mengedepankan mediasi terlebih dahulu sebelum masuk meja persidangan,” pungkasnya.
Editor: Erwin