Tradisi tersebut memiliki makna lebih dalam, bukan hanya untuk menyambut Kapolres yang baru, tetapi juga untuk memberi penghormatan kepada seorang pemimpin yang telah memberikan kontribusi besar dan meninggalkan jejak kepemimpinan yang luar biasa sepanjang masa jabatannya.
Dengan penuh hormat, seluruh jajaran personel Polres Kutim membentuk barisan pedang pora, tradisi sakral dalam institusi Polri yang hanya diberikan kepada pejabat penting saat awal atau akhir masa jabatan.
Selama masa tugasnya, AKBP Chandra Hermawan dikenal tak hanya tegas dalam penegakan hukum, tapi juga humanis dalam pendekatan sosial. Mulai dari penguatan sinergi dengan tokoh masyarakat, penanganan gangguan kamtibmas, hingga pemberdayaan personel Polres di tingkat bawah.
Kapolres pengganti, AKBP Fauzan Arianto mendapat sambutan hangat dari seluruh personel. Namun, ia menyadari betul tantangan yang menanti, terutama meneruskan kepercayaan yang telah dibangun pendahulunya.
“Saya datang tidak untuk mengganti, tetapi untuk melanjutkan. Banyak program baik yang sudah terlaksana akan terus kita hidupkan,” jelasnya, Jumat (11/7/2025).
Serah terima jabatan ini bukan sekadar formalitas institusional, melainkan bentuk nyata regenerasi di tubuh Polri. Tradisi pedang pora menjadi simbol bahwa kekuatan dan kehormatan terus berpindah tangan secara terhormat.
“Alhamdulillah kami disambut dengan tradisi penyambutan, laporan kesatuan dan apel farewell parade,” pungkasnya.