Beberapa pedagang lebih memilih di luar lapak selain mudah terjangkau juga mampu menarik banyak pembeli karena harga terkadang lebih murah. "Kalau dilapak bayar retribusi, pengunjung juga sepi jadi kami lebih memilih berjualan diluar," kata Aris, seorang pedagang kepada Korankaltim.com Senin (3/3/2025) hari ini.
Kondisi tersebut tentu saja tidak bisa dibiarkan oleh pemerintah setempat. Pasalnya, keberadaan pasar tumpah ini kerap mengganggu mobilitas masyarakat dan menimbulkan kemacetan.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur sudah menyusun rugulasi dalam menertibkan pasar tumpah di beberapa pasar tradisional.
Kepala Dinas Perinsdustian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim Nora Ramadhani mengaku mereka sedang merancang regulasi untuk mengatasi masalah ini agar pasar tetap teratur dan harga tetap stabil. "Kami sudah menyusun rugulasi dalam menertibkan pasar tumpah di beberapa pasar tradisional," jelas Nora.
Nantinya pedagang yang saat ini berjualan di lokasi yang tidak resmi akan diarahkan ke pasar rakyat yang telah disediakan. Permasalahan yang muncul saat ini juga akibat kurang efektifnya penertiban lapak pada setiap pasar. "Pasar tumpah ini berjejer di tepi jalan depan pintu gerbang pasar. Nanti jika tidak diterbitkan akan semakin menjamur," sebut Nora lagi.
Padahal di dalam pasar masih banyak lapak kosong yang disiapkan Disperindag melalui UPTD pasar. Demi mengatasi polemik terkait tunggakan retribusi pihaknya bakal menetapkan sistem penertiban lapak yang tidak efektif. "Tujuannya agar dapat memberikan kesempatan bagi pedagang yang serius ingin berjualan di lapak yang disediakan," tutup Nora.
Editor: Aspian Nur