Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum mengatakan, pihaknya gencar melakukan program Inseminasi Buatan atau kawin suntik sejumlah hewan ternak di berbagai kecamatan. Pihaknya kembali mendukung tenaga di lapangan guna menghidupkan dan menggencarkan kembali program tersebut.
"Kami akan mencoba memperpendek jarak kelahiran hewan ternak dengan kawin suntik atau inseminasi buatan,” sebut Dyah.
Sehingga diharapkan ke depan Kutim dapat mencapai swasembada daging. Selama ini untuk sapi dari peternak lokal baru dapat memenuhi 30 persen kebutuhan pasar, sementara sisanya dari luar daerah.
"Agar diperoleh data populasi ternak yang lebih akurat maka perlu dilakukan pendataan menyeluruh di lapangan," jelas dia.
Pendataan peternak dilakukan baik milik warga maupun peternak milik perusahaan atau koperasi. Di samping itu hasil dari pendataan ini, akan diperoleh angka populasi ternak yang lebih akurat sehingga menjadi dasar program dan perencanaan selanjutnya. "Semoga ternak warga terus produktif agar ekonomi peternak bisa meningkat," jelas dia.
Dikonfirmasi secara terpisah, Jabatan Fungsional Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kutim, Achmad Doni Erviady mengaku daging sapi lokal di Kutim mulai masuk ke pasaran.
"Namun belum bisa sepenuhnya mampu memenuhi permintaan pasar," jelas dia. Populasi sapi di Kutim saat ini yang baru sekitar 15 ribu ekor sehingga masih kurang dan belum mampu menyesuaikan permintaan pasar untuk disembelih. (*/kk)
Editor: Maruly Z