Kepala Dinkes Kutim, Bahrani Hasanal memaparkan, bahwa terhitung sejak Januari, Februari dan Maret 2023 tercatat angka kasus DBD di Kutim mencapai 68 kasus.
"Hasil pendataan Januari sebanyak 29 kasus, Februari 22 kasus dan pertanggal 15 Maret 2023 sebanyak 17 kasus," sebut Bahrani saat dikonfirmasi pada Kamis (16/3/2023) sore.
Untuk itu, masyarakat diminta untuk memperhatikan tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sumber jentik nyamuk.
"Intinya faktor pemicu meningkatnya DBD dengan cuaca musim penghujan tentu berpengaruh pada populasi sarsng nyamuk," ulasnya.
Pihaknya menganjurkan agar diterapkan pola 3M plus yang merupakan langkah-langkah sederhana yang ampuh mencegah penyakit DBD.
"Penyumbang kasus hampir menyebar di tiap kecamatan. Jadi tetap waspada dan melakukan pola hidup sehat agar kasus tidak bertambah," sebutnya.
Sehingga untuk menurunkan angka DBD ada beberapa upaya dilakukan baik sistem Fogging maupun memberantas jentik menggunakan obat pembasmi.
"Langkah yang paling aman yakni dengan memberantas jentik dengan abatesasi atau pembunuh jentik yang dituang di tempat penampungan air," bebernya.
Meskipun selama ini telah gencar dilakukan fogging di area rumah yang menjadi sarang nyamuk namun tersebut dinilai kurang efektif dalam upaya pencegahan penularan DBD.
"Memang saat disemprot nyamuk bisa mati tapi besoknya ada lagi. Belum lagi resiko kesehatan asap yang dikeluarkan," bebernya.
Untuk itu, pihaknya akan memfasilitasi dengan memberikan obat abate untuk masyarakat umum guna mengurangi penularan DBD secara gratis. Abate merupakan cairan Larvasida yang sangat kuat dan efektif mengontrol fase jentik nyamuk sebagai penyebar penyakit.
Kendati demikian, hal tersebut pun dinilai belum efektif, pasalnya tidak semua masyarakat faham atau mengerti terkait kegunaan dari abate tersebut.
"Sebenarnya masing-masing puskesmas telah menyiapkan stok cuma memang masyarakat butuh edukasi terkait penggunaan. Jadi silahkan minta kepada petugas," tukas dia
Editor: Rusdianto