
"Untuk di wilayah Kutim angka stunting mencapai 27,5 persen merupakan angka tertinggi skala provinsi maupun nasional. Sehingga harus berikhtiar untuk melakukan penurunan dengan upaya pencegahan," sebut Sutrisno.
Sehingga meminta peran serta pihak perusahaan untuk terlibat dalam upaya penurunan angka stunting. Sebab itu, stunting bukan penyakit yang harus disembuhkan tetapi lebih kepada upaya mitigasi atau pencegahan.
"Masalah stunting ini tentu menyangkut banyak. Salah satunya dengan melibatkan perusahaan setempat. Jadi indikator suksesnya kegiatan ini harus dapat menurunkan angka stunting," jabarnya.
Ditambahkan, Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), H B. B. Partomuan menuturkan bahwa peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak 128 peserta se-Kecamatan Sangatta Utara.
"Para peserta akan dilatih untuk dapat melaksanakan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) sehingga bisa memahami kinerja di lapangan," paparnya.
Sementara, CSR Section Head PT Pamapersada Nusantara site KPC Sangatta, Yasser Pramana menuturkan selama ini pihaknya telah melakukan pembinaan sebanyak enam Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) khususnya di Kecamatan Sangatta Utara.
Selain itu, pihaknya juga mendukung ketersediaan peralatan sarana prasarana (sapras) Posyandu binaan yang berada di Desa Swarga Bara dan di daerah Kenyamukan.
"Prinsipnya kami telah mendukung untuk peningkatan gizi, pelatihan kader posyandu dan juga pembangunan sarpras posyandu sebagai bagian kontribusi dalam upaya-upaya penurunan angka stunting," sebutnya.
Kegiatan tersebut juga diapresiasi oleh PT Kaltim Prima Coal (PT KPC). Superintendent Community Health and Education, Febriana Kurniasari menuturkan dengan adanya pelatihan bagi TPK dan TPPS upaya penurunan stunting sangat bermanfaat.
"Sehingga kedepan mempunyai target untuk penurunan angka stunting di Kutim sebesar 14 persen pada tahun 2024 mendatang," tukasnya.
Penulis: Zulhamri
Editor: Supiansyah