DPKP melakukan koordinasi dengan pengelola polder untuk proses penangkapan dan evakuasi hewan predator tersebut yang dikhawatirkan membahayakan pengunjung yang bersantai dan liburan di kawasan tersebut.
Kepala DPKP Kutai Timur Failu menjelaskan hal tersebut
“Kami sudah dapat informasi kalau disekitar polder sering ada seekor buaya yang naik berjemur di pinggir danau. Prinsipnya kami siap saja melakukan pemasangan perangkap dilokasi tersebut,” kata Failu.
DPKP terkendala dengan keterbatasan yang hanya mengandalkan satu perangkap saja. Apalagi saat ini perangkap tersebut di pasang di Kecamatan Bengalon.
“Saat ini posisi perangkap di pasang di Bengalon. Tapi dalam waktu dekat segera kami pasang disekitar polder,” beber Failu.
Biasanya dalam memasang perangkat memakan waktu sekitar seminggu dengan menggunakan umpan ayam. Ukuran perangkap 3x1 meter persegi.
Sementara ini DPKP meminta kepada warga jika menemukan hewan berbahaya bisa melaporkan langsung ke mereka untuk dilakukan penanganan khususnya wilayah Kota Sangatta.
Sebelumnya Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menuturkan bahwa ada potensi wisata yang tak kalah menarik untuk dikembangkan di Kutim salah satunya penangkaran buaya namun hal itu belum bisa terakomodir di APBD Kutai Timur untuk saat ini.
Kutai Timur memang terkenal memiliki buaya yang banyak sehingga perlu ada penangkaran buaya skala besar.
Namun alokasi APBD tidak bisa diandalkan untuk itu, sehingga butuh investor untuk mengelolanya.
“Memang perlu dibangunkan penangkaran. Tapi juga harus di pikirkan untuk kebutuhan dana untuk pamberian makan setiap harinya,” kata Kasmidi.
Lokasi yang paling strategis untuk dibangun penangkaran buaya adalah di Kecamatan Bengalon, tepatnya di Muara Bengalon atau di pantai Kenyamukan.
Penulis*/Zulhamri
Editor: Aspian Nur