Ia merasa sangat dirugikan dengan kehadiran para penimbun atau pengetap BBM yang marak ditemui di SPBU. "Kalau bisa kami meminta agar ada tindakan tegas dari pemangku kebijakan terhadap penyedia BBM dan pengetap yang memang terbukti melanggar aturan," harapnya.
Diakui, Permata memiliki anggota sekitar 400 sopir ini berharap agar mereka bisa kebagian solar. “Kami perlu solar tiap hari tanpa solar tentu resikonya bisa menunda pekerjaan berhari-hari,” jabarnya. Pihaknya meminta agar permasalahan kelangkaan ini harus ada solusi yang tepat sehinggga tidak terjadi secara terus-menerus.
"Kami meminta agar SPBU agar jam operasional bisa dikaji ulang. Semisal yang berada di Jalan poros Yo Sudarso jika bisa menambah kouta BBM hingga beroperasi selama 24 jam," tambahnya.
Wakil Ketua DPRD Kutim, Arfan menegaskan akan memfasilitasi apa yang menjadi keresahan para sopir. "Kalau perlu kami akan melakukan sidak agar kelangkaan BBM tidak terjadi lagi. Persoalan memang kerap terjadi di semua daerah namun paling tidak ada solusinya," sebutnya.
Pihaknya juga menawarkan ke sejumlah anggota untuk belajar terkait regulasi sebagai yang telah diterapkan di Kota Bontang. Hal ini akan menghambat perputaran ekonomi jika proses bongkar muat mengalami keterlambatan. Apalagi harus mengantre BBM hingga berjam-jam.
"Setidaknya pihak berwajib yakni aparat kepolisian untuk terus melakukan pengawasan agar penyaluran BBM ini tidak terjadi hambatan," tandasnya.
Penulis : Zulhamri
Editor : Bambang Irawan