Ustadz Nizar Rafi Mutaqin selaku pimpinan atau khodimul ma'had pesantren mengantar tiga santri tersebut, satu putra dan dua putri. Mereka adalah Muhamad Ilyas Yafif yang melanjutkan studi ke Pendidikan Agama Islam (PAI) Fiqih, Nabila Nurcahyani mengambil PAI dan Alquran dan Rahayu Ningsih mengambil jurusan Manajemen Pendidikan dan Hadist. Ketiga santriwan dan santriwati itu saat ini sudah berada di kampus Universitas Hasyim Asy'ari Tebu.
Ustadz Amar Sidiq selaku Ketua Yayasan mengatakan, sampai di 2021 ini dari 190 santri yang ada berasal bukan saja dari desa Muara Wahau tetapi juga dari Kecamatan Muara Wahau, Kongbeng dan Pantun. Bahkan ada juga santri dari Bengalon, Sangata dan Palu Sulawesi.
Tenaga pendidik sebanyak 12 orang dengan 4 unit Pendidikan yaitu Taman Pendidikan Alquran, Madrasah Diniah Awaliah, Pondok Pesantren dan Balai Latihan Kerja.
“Pesantren ini berdiri hasil inisiatif beberapa tokoh agama dan tokoh warga desa yang terdorong akan pentingnya pendidikan agama dan kompetensi bagi anak-anak dan generasi muda Desa Muara Wahau dan sekitarnya,” kata Sidiq.
Inisitif tesebut disambut baik oleh CSR PT Dharma Satya Nusantara (DSN Group) dan Pemerintah Desa Muara Wahau, yang kemudian membantu memfasilitasi beberapa tokoh tersebut untuk study banding dan magang keilmuan di bidang pengelolaan dan pengembangan pendidikan Agama Islam ke beberapa Pondok Pesantren di Jombang, Yogyakarta dan Bandung.
Kamaruzzaman yang merupakan satu dari beberapa tokoh pendiri menambahkan, ponpes ini berdiri karena awalnya mereka diajak jalan ke Yogyakarta, berbincang ringan tentang pendidikan anak-anak Wahau. “Setelah itu kami berkunjung ke satu Pondok Pesantren di Yogyakarta, dari sinilah kami membulatkan tekat memulai dalam bentuk taman pendidikan Alquran bagi anak-anak Muara Wahau,” papar Kamaruzzamn.
Dari ulan ke bulan jumlah murid makin banyak dan pola serta unit pendidikan keagamaan Madrasah Diniyah pun dikembangkan hingga Pondok Pesantren yang dilengkapi dengan Balai Latihan Kerja Komunitas. “Alhamdulillah saat ini kehidupan masyarakat di desa kami semakin agamis,” ungkapnya.
Selain menempati bangunan besar berdampingan dengan masjid besar Al Ijtihad Muara Wahau, saat ini Pondok Pesantren AlKhairaat sudah mempunyai lahan seluas tiga hektar hibah Pemdes Muara Wahau dan telah dibangun balai latihan kerja komputer dengan kelengkapannya atas dukungan dari Kementrian Tenaga Kerja RI. Kerjasama terus dibangun oleh Pengurus dan Pengelola Yayasan AlKhairaat untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan, baik dengan sekolah negeri maupun kejuruan di Wahau Kongbeng, Pondok Pesantren di Indonesia, Departemen Agama, Departemen Tenaga Kerja dan yang terakhir menerima kunjungan dari Departemen PUPR yang menggali kebutuhan infrastruktur Pondok Pesantren.
“Dari desa Muara Wahau akan terlahir generasi yang berkemampuan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan teknologi) dan Imtaq (Iman dan Taqwa), juga berarah dikemudian hari para santri dapat berperan dalam kehidupan masyarakat baik di Muara Wahau maupun di daerah asalnya, berkarya menjadi teladan masyarakat,” harap Ustadz Nizar Rafi Mutaqin, khodimul ma'had yang juga alumni Pesantren Tebu Ireng,
Beliau juga mengharapkan ketiga santri yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Hasyim Asy'ari, jika kelak sudah lulus dapat mengabdikan dan mengembangkan almamaternya Pondok Pesantren AlKhairaat.
Penulis: */Zulhamrie
Editor: Aspian Nur