Supiansyah, seorang warga Kota Raja meluapkan kekesalannya akibat lambatnya proses pengisian BBM di SPBU tersebut. Supiansyah mengaku sudah mengantre sejak pukul 05.00 WITA. Hampir satu jam menunggu hingga menjelang pukul 05.50 WITA, kendaraannya masih tertahan dan menyisakan lima mobil lagi di depannya.
"Mengisi sendiri di SPBU Tenggarong ini belum efektif, karena antrean masih panjang. Beda dengan daerah lain yang sudah terbiasa. Di sini, sistem mandiri malah bikin lambat," kata Supiansyah kepada Korankaltim.com, Jumat (30/10/2026).
Ia membandingkan kondisi ini dengan sistem pelayanan sebelumnya. Biasanya antrean dari depan gerbang SPBU hingga ke pompa pengisian hanya memakan waktu sekitar 20 menit saja. Namun, dengan sistem baru ini waktu tunggu membengkak hingga hampir satu jam.
Masyarakat Tenggarong dinilai belum sepenuhnya siap secara edukasi untuk mengoptimalkan mesin pompa sendiri. Jika dipaksakan tanpa pendampingan dari petugas, sistem ini akan membahayakan dan rawan memicu insiden.
"Tenggarong ini belum siap, mana bisa disuruh mengisi sendiri tanpa pendampingan, yang ada malah membuat antrean panjang dan bensin bisa saja tumpah-tumpah," kata dia.
Supiansyah juga menyoroti keberadaan dua petugas SPBU yang berjaga di lokasi. Petugas yang dulunya bertugas mengisikan BBM, kini dialihfungsikan hanya sebagai kasir untuk menerima pembayaran.
"Daripada mereka cuma jadi kasir, lebih baik kembali ditugaskan untuk mengisikan bensin ke kendaraan warga agar pelayanan bisa lebih cepat," tegasnya.
Melihat kondisi pelayanan yang semakin menurun dan merugikan produktivitas warga, anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) harus segera mengeluarkan pernyataan sikap resmi. Dewan diminta turun tangan mengkritisi manajemen SPBU dan mendesak Pertamina untuk mengevaluasi total sistem pelayanan mandiri tersebut sebelum memicu keresahan yang lebih luas.
Editor: Aspian Nur
Supiansyah, seorang warga Kota Raja meluapkan kekesalannya akibat lambatnya proses pengisian BBM di SPBU tersebut. Supiansyah mengaku sudah mengantre sejak pukul 05.00 WITA. Hampir satu jam menunggu hingga menjelang pukul 05.50 WITA, kendaraannya masih tertahan dan menyisakan lima mobil lagi di depannya.
"Mengisi sendiri di SPBU Tenggarong ini belum efektif, karena antrean masih panjang. Beda dengan daerah lain yang sudah terbiasa. Di sini, sistem mandiri malah bikin lambat," kata Supiansyah kepada Korankaltim.com, Jumat (30/10/2026).
Ia membandingkan kondisi ini dengan sistem pelayanan sebelumnya. Biasanya antrean dari depan gerbang SPBU hingga ke pompa pengisian hanya memakan waktu sekitar 20 menit saja. Namun, dengan sistem baru ini waktu tunggu membengkak hingga hampir satu jam.
Masyarakat Tenggarong dinilai belum sepenuhnya siap secara edukasi untuk mengoptimalkan mesin pompa sendiri. Jika dipaksakan tanpa pendampingan dari petugas, sistem ini akan membahayakan dan rawan memicu insiden.
"Tenggarong ini belum siap, mana bisa disuruh mengisi sendiri tanpa pendampingan, yang ada malah membuat antrean panjang dan bensin bisa saja tumpah-tumpah," kata dia.
Supiansyah juga menyoroti keberadaan dua petugas SPBU yang berjaga di lokasi. Petugas yang dulunya bertugas mengisikan BBM, kini dialihfungsikan hanya sebagai kasir untuk menerima pembayaran.
"Daripada mereka cuma jadi kasir, lebih baik kembali ditugaskan untuk mengisikan bensin ke kendaraan warga agar pelayanan bisa lebih cepat," tegasnya.
Melihat kondisi pelayanan yang semakin menurun dan merugikan produktivitas warga, anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) harus segera mengeluarkan pernyataan sikap resmi. Dewan diminta turun tangan mengkritisi manajemen SPBU dan mendesak Pertamina untuk mengevaluasi total sistem pelayanan mandiri tersebut sebelum memicu keresahan yang lebih luas.