Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Memasuki pekan keempat atau terakhir pada Oktober 2026 ini , ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dilaporkan mulai berkurang.
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Memasuki pekan keempat atau terakhir pada Oktober 2026 ini , ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dilaporkan mulai berkurang.
Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mencatat penyusutan pada area terdampak, dari 722 hektare yang terjadi pada September menjadi sekitar 312 hektare pada pertengahan Oktober. Jumlah titik panas atau hotspot yang sempat mencapai ratusan saat ini terpantau sisa puluhan titik.
Meskipun wilayah Ibu Kota Tenggarong dan Tenggarong Seberang mulai diguyur hujan deras pada Selasa (27/10/2026) kemarin, BPBD Kukar mengingatkan status siaga penuh belum dicabut.
"Ini karena curah hujan belum merata di seluruh wilayah Kukar, makanya sebagian besar vegetasi dan lahan gambut masih dalam kondisi kering kritis," kata Sekretaris BPBD Kukar Aspianur Sandi kepada Korankaltim.com, Rabu (28/10/2026).
Hujan yang turun saat ini menandai fase transisi dari kemarau menuju awal musim hujan, yang diperkirakan akan berlangsung hingga Desember 2026 mendatang.
"Prediksinya peralihan musim ini dimulai pada akhir Oktober ini, untuk Senin kemarin dua kali hujan turun dan Rabu sudah juga hujan di beberapa kecamatan dan wilayah hulu, ini sangat membantu mengurangi firespot supaya karhutla tidak semakin parah. Tapi, masyarakat tetap kami imbau mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dari BMKG karena kondisi hujan belum merata," ujar Sandi.
Sementara Kepala BPBD Kukar Setianto Nugroho Aji menginstruksikan seluruh personel gabungan di posko-posko terpadu untuk tidak lengah dengan pergantian cuaca ini. Sifat spesifik lahan gambut yang mampu menyimpan bara di bawah permukaan tanah berpotensi besar memicu api kembali berkobar, terutama jika dipicu embusan angin kencang.
"Jumlah hotspot memang sudah berkurang ke angka puluhan, tapi potensi karhutla wajib terus kita waspadai. Kondisi lahan yang sangat kering masih ada," tegas Setianto.
Selain ancaman sisa bara api, dampak kabut asap sisa kebakaran dilaporkan masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kukar, termasuk di kawasan pusat pemerintahan Tenggarong.
Guna memitigasi risiko penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), BPBD Kukar kini mengoptimalkan penggunaan alat pemantau portabel untuk memonitor fluktuasi kualitas udara secara berkala.
"Sampai saat ini personel gabungan dari unsur BPBD, Damkar, TNI, Polri, serta relawan desa tetap disiagakan di lapangan untuk melakukan patroli rutin memantau titik-titik api, ini berlaku di 20 Kecamatan se-Kukar," ujar Setianto.
Editor: Aspian Nur
Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mencatat penyusutan pada area terdampak, dari 722 hektare yang terjadi pada September menjadi sekitar 312 hektare pada pertengahan Oktober. Jumlah titik panas atau hotspot yang sempat mencapai ratusan saat ini terpantau sisa puluhan titik.
Meskipun wilayah Ibu Kota Tenggarong dan Tenggarong Seberang mulai diguyur hujan deras pada Selasa (27/10/2026) kemarin, BPBD Kukar mengingatkan status siaga penuh belum dicabut.
"Ini karena curah hujan belum merata di seluruh wilayah Kukar, makanya sebagian besar vegetasi dan lahan gambut masih dalam kondisi kering kritis," kata Sekretaris BPBD Kukar Aspianur Sandi kepada Korankaltim.com, Rabu (28/10/2026).
Hujan yang turun saat ini menandai fase transisi dari kemarau menuju awal musim hujan, yang diperkirakan akan berlangsung hingga Desember 2026 mendatang.

"Prediksinya peralihan musim ini dimulai pada akhir Oktober ini, untuk Senin kemarin dua kali hujan turun dan Rabu sudah juga hujan di beberapa kecamatan dan wilayah hulu, ini sangat membantu mengurangi firespot supaya karhutla tidak semakin parah. Tapi, masyarakat tetap kami imbau mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dari BMKG karena kondisi hujan belum merata," ujar Sandi.
Sementara Kepala BPBD Kukar Setianto Nugroho Aji menginstruksikan seluruh personel gabungan di posko-posko terpadu untuk tidak lengah dengan pergantian cuaca ini. Sifat spesifik lahan gambut yang mampu menyimpan bara di bawah permukaan tanah berpotensi besar memicu api kembali berkobar, terutama jika dipicu embusan angin kencang.
"Jumlah hotspot memang sudah berkurang ke angka puluhan, tapi potensi karhutla wajib terus kita waspadai. Kondisi lahan yang sangat kering masih ada," tegas Setianto.
Selain ancaman sisa bara api, dampak kabut asap sisa kebakaran dilaporkan masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kukar, termasuk di kawasan pusat pemerintahan Tenggarong.

Guna memitigasi risiko penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), BPBD Kukar kini mengoptimalkan penggunaan alat pemantau portabel untuk memonitor fluktuasi kualitas udara secara berkala.
"Sampai saat ini personel gabungan dari unsur BPBD, Damkar, TNI, Polri, serta relawan desa tetap disiagakan di lapangan untuk melakukan patroli rutin memantau titik-titik api, ini berlaku di 20 Kecamatan se-Kukar," ujar Setianto.
Editor: Aspian Nur





Pusat gempa berada di darat 8 km Barat Laut Tanggamus
28 Okt 2026, 15:23:46 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
