Selasa, 28/07/2026
Selasa, 28/07/2026
Pantauan terakhir di hari ke depalan Tim Sar pencarian nelayan hilang di Muara Berau, Kecamatan Muara Badak. (Foto: Dok.Tim sar Sangatta)
Selasa, 28/07/2026

Pantauan terakhir di hari ke depalan Tim Sar pencarian nelayan hilang di Muara Berau, Kecamatan Muara Badak. (Foto: Dok.Tim sar Sangatta)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Pencarian terhadap Hasriarto (37), nelayan yang dilaporkan hilang di perairan Muara Berau, memasuki hari ke-13 dan belum membuahkan hasil.
Sebelumnya, operasi pencarian aktif telah dihentikan di hari ke-8 sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014. Meski demikian, tim SAR memastikan pemantauan tetap dilakukan secara intensif di sekitar lokasi kejadian.
Koordinator Pos SAR Sangatta, Dwi Adi, menegaskan seluruh radar dan armada masih disiagakan untuk memantau perairan Muara Berau.
“Pencarian aktif selesai sudah lewat tujuh hari. Tapi kami masih melakukan pemantauan dan berjalan tanpa batas waktu. Kami juga sudah koordinasi dengan seluruh unsur yang bergerak di laut,” ungkap Dwi Adi, Selasa (28/7/2026).
Ia mengungkapkan, Perairan Muara Berau saat itu sedang dihantam musim angin selatan yang ekstrem. Arus kuat berkecapatan tinggi diduga telah menyeret tubuh korban jauh ke utara.
“Prediksi kami, nelayan itu sudah terbawa hingga masuk ke jalur pelayaran internasional (ALKI). Di sana, lautan sangat luas dan dalam, membuat pencarian manual di permukaan menjadi rintangan yang hampir mustahil,” jelasnya.
Meski peluang tipis, Tim SAR tetap mengandalkan jaringan mata dari kapal-kapal yang melintasi jalur dunia tersebut. Jika ada objek mencurigakan tertangkap kamera atau pandangan mata, operasi evakuasi akan langsung diaktifkan kembali.
“Untuk pihak keluarga sudah mengikhlaskan setelah berhari-hari didera ketidakpastian. Ritual tabur bunga juga telah digelar tepat di titik koordinat di mana kapal pertama kali ditemukan dalam kondisi karam dan hancur dihantam ombak,” ungkapnya.
Peristiwa ini menjadi peringatan bagi nelayan, khususnya di wilayah Kaltim untuk meningkatkan kewaspadaan saat melaut di tengah kondisi cuaca ekstrem.
“Kami tidak bisa melarang mereka mencari nafkah. Tapi tolong, jangan melaut dengan tangan kosong tanpa alat keselamatan, pakai life jacket. Laut sedang tidak bisa diajak kompromi,” tegasnya.
Sebelumnya, korban terakhir kali diketahui melaut seorang diri menggunakan metode rawai pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 16.30 WITA. Kekhawatiran keluarga muncul setelah korban tidak kembali ke rumah keesokan harinya.
Pencarian sempat menemukan titik awal setelah kapal milik korban ditemukan mengapung dalam kondisi setengah tenggelam di perairan Muara Berau pada Kamis (16/7/2026) pagi. Saat itu, korban diketahui mengenakan jaket ungu dan celana pendek hitam. Pihak keluarga juga menyebut korban memiliki riwayat medis kejang.
Editor: Erwin
Selasa, 28/07/2026
Pantauan terakhir di hari ke depalan Tim Sar pencarian nelayan hilang di Muara Berau, Kecamatan Muara Badak. (Foto: Dok.Tim sar Sangatta)
TERPOPULER