Rabu, 22/07/2026
Rabu, 22/07/2026
Pencarian nelayan tenggelam di Perairan Muara Berau, Kecamatan Muara Badak. (Foto: Dok. Pos Sar Sangatta)
Rabu, 22/07/2026

Pencarian nelayan tenggelam di Perairan Muara Berau, Kecamatan Muara Badak. (Foto: Dok. Pos Sar Sangatta)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKAKTIM.COM, TENGGARONG - Tim SAR Gabungan resmi mengubah status operasi pencarian Hasriarto yang mengalami kecelakaan kapal di perairan Kutai Timur dan hilang pada pada Rabu (15/7/2026) pekan lalu sekitar pukul 16.30 WITA dari pencarian aktif menjadi status pemantauan.
Keputusan tersebut diambil setelah upaya penyisiran intensif hingga hari kelima kemarin belum membuahkan hasil, meski area pencarian telah diperluas secara masif hingga mendekati jalur pelayaran Selat Makassar.
Koordinator Pos Sar Sangatta Dwi Adi mengatakan, radius pencarian hingga hari kelima pada Selasa (21/7/2026) kemarin tercatat telah mencapai 587 nautical mile persegi. Luasnya area yang disisir membuat pihak pimpinan Basarnas mengambil kebijakan untuk mengubah strategi penanganan di lapangan.
"Radius yang dicari sudah lebih dari 500 nautical mile persegi, sudah sangat luas sekali dan bahkan memasuki Selat Makassar. Oleh karena itu, pimpinan merubah statusnya menjadi pemantauan," kata Adi, Rabu (22/7/2026).
Melalui status pemantauan ini, Tim SAR tidak lagi mengerahkan armada untuk menyisir laut secara berkala. Sebagai gantinya, petugas menyebarkan informasi dan berkoordinasi ketat dengan stasiun radio pantai serta maklumat pelayaran. Mengingat kawasan ini merupakan jalur padat yang dilalui kapal dagang, tugboat, hingga kapal penyeberangan, nakhoda yang melintas diminta segera melapor jika melihat tanda-tanda korban.
"Kalau ada informasi valid, operasi pencarian akan langsung dibuka kembali untuk menjemput nelayan itu," sebut Adi.
Sesuai prosedur yang berlaku, operasi SAR ini akan dihentikan sepenuhnya jika sudah melewati batas waktu tujuh hari tanpa adanya tanda-tanda keberadaan korban.
"Operasi ini murni berfokus pada pencarian fisik manusia. Dari informasi pihak keluarga, semua barang-barang pribadi nelayan itu ditemukan utuh di dalam kapal yang kini telah diamankan," ungkapnya.
Meski rekan nelayan dan korban diketahui selalu mengantisipasi keselamatan dengan menyediakan alat apung seperti life jacket hingga jerigen, situasi di tengah laut berkata lain. Di tengah situasi kritis ini, Tim SAR Gabungan mengimbau pihak keluarga untuk tetap tabah dan bersiap menerima segala kemungkinan dengan penuh keikhlasan.
Diberitakan sebelumnya, nelayan bernama Hasriarto (37) berangkat memancing seorang diri menggunakan kapal pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 16.30 WITA. Pihak keluarga mulai panik karena dirinya tidak kunjung kembali ke rumah hingga keesokan harinya.
Hilangnya Hasriarto mulai menemui titik terang saat nelayan setempat melintas di perairan Muara Berau dan menemukan sebuah perahu yang sudah setengah tenggelam. Setelah diperiksa berdasarkan ciri-ciri fisiknya, pihak keluarga memastikan kapal tersebut adalah miliknya.
Hingga hari keenam, penyebab pasti hilangnya Hasriarto belum bisa dipastikan. Namun, pihak keluarga membeberkan bahwa korban memiliki riwayat medis sering mengalami kejang secara tiba-tiba. Kondisi ini diduga memicu situasi darurat saat Hasriarto berada sendirian di tengah laut.
Editor: Aspian Nur
Rabu, 22/07/2026
Pencarian nelayan tenggelam di Perairan Muara Berau, Kecamatan Muara Badak. (Foto: Dok. Pos Sar Sangatta)
TERPOPULER