Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Hendaq Pekayang, satu dari rangkaian adat Laliq Ugaal masyarakat Dayak Bahau, digelar di Kampung Tering Lama, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Sabtu (17/10/2026).
2 menit baca4 kali dibaca

Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Hendaq Pekayang, satu dari rangkaian adat Laliq Ugaal masyarakat Dayak Bahau, digelar di Kampung Tering Lama, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Sabtu (17/10/2026).
Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini tidak hanya berkaitan dengan musim tanam padi, tetapi juga memuat nilai spiritual, kebersamaan dan identitas budaya masyarakat.
Terkait itu, Bupati Kubar Frederick Edwin mengatakan tradisi seperti Hendaq Pekayang perlu terus dijaga agar tidak kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat, terutama di tengah modernisasi.
Pelestarian adat tidak cukup dilakukan oleh para tetua, tetapi juga membutuhkan keterlibatan generasi muda.
“Di era modernisasi ini, identitas budaya adalah jangkar yang menjaga agar semua tetap membumi dan memiliki karakter yang kuat. Jadilah garda terdepan yang bangga memperkenalkan adat warisan leluhur ini kepada dunia luar,” kata Frederick
Bagi masyarakat Dayak Bahau, Hendaq Pekayang merupakan bagian dari rangkaian adat Laliq Ugaal yang berkaitan dengan musim tanam padi.
Tradisi ini mengandung ungkapan syukur kepada Sang Pencipta sekaligus doa dan harapan agar tanaman padi tumbuh baik, terhindar dari gangguan maupun penyakit, serta menghasilkan panen yang melimpah.
Selain makna spiritual, tradisi ini juga merefleksikan nilai persatuan dan gotong royong. Pelaksanaannya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga hubungan antarkampung sekaligus mempertahankan adat yang menjadi bagian dari identitas mereka.
Frederick mengapresiasi panitia, lembaga adat, pemerintah kampung, dan masyarakat yang bekerja sama sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana. Ia juga menilai pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi daerah, termasuk melalui wisata budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana Hendaq Pekayang Jimes Satuq menambahkan, pelestarian adat membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga adat, tokoh masyarakat, dunia usaha hingga anak muda. Tanggung jawab menjaga budaya, menurutnya, tidak bisa diserahkan kepada satu kelompok saja.
“Budaya merupakan identitas dan jati diri masyarakat. Oleh karena itu, adat istiadat tidak boleh hanya menjadi kenangan masa lalu atau sekadar ditampilkan dalam sebuah acara. Budaya harus tetap hidup, dipahami maknanya, dihormati nilai-nilainya, serta diwariskan kepada generasi muda,” ujar Jimes.
Hendaq Pekayang diharapkan dapat terus dilaksanakan dan mendapat dukungan agar keberlangsungannya terjaga. Selain merawat adat dan mempererat hubungan masyarakat, kegiatan ini juga berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya dan ekonomi kreatif.
Editor: Aspian Nur
Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini tidak hanya berkaitan dengan musim tanam padi, tetapi juga memuat nilai spiritual, kebersamaan dan identitas budaya masyarakat.
Terkait itu, Bupati Kubar Frederick Edwin mengatakan tradisi seperti Hendaq Pekayang perlu terus dijaga agar tidak kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat, terutama di tengah modernisasi.
Pelestarian adat tidak cukup dilakukan oleh para tetua, tetapi juga membutuhkan keterlibatan generasi muda.
“Di era modernisasi ini, identitas budaya adalah jangkar yang menjaga agar semua tetap membumi dan memiliki karakter yang kuat. Jadilah garda terdepan yang bangga memperkenalkan adat warisan leluhur ini kepada dunia luar,” kata Frederick
Bagi masyarakat Dayak Bahau, Hendaq Pekayang merupakan bagian dari rangkaian adat Laliq Ugaal yang berkaitan dengan musim tanam padi.
Tradisi ini mengandung ungkapan syukur kepada Sang Pencipta sekaligus doa dan harapan agar tanaman padi tumbuh baik, terhindar dari gangguan maupun penyakit, serta menghasilkan panen yang melimpah.

Selain makna spiritual, tradisi ini juga merefleksikan nilai persatuan dan gotong royong. Pelaksanaannya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga hubungan antarkampung sekaligus mempertahankan adat yang menjadi bagian dari identitas mereka.
Frederick mengapresiasi panitia, lembaga adat, pemerintah kampung, dan masyarakat yang bekerja sama sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana. Ia juga menilai pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi daerah, termasuk melalui wisata budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana Hendaq Pekayang Jimes Satuq menambahkan, pelestarian adat membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga adat, tokoh masyarakat, dunia usaha hingga anak muda. Tanggung jawab menjaga budaya, menurutnya, tidak bisa diserahkan kepada satu kelompok saja.
“Budaya merupakan identitas dan jati diri masyarakat. Oleh karena itu, adat istiadat tidak boleh hanya menjadi kenangan masa lalu atau sekadar ditampilkan dalam sebuah acara. Budaya harus tetap hidup, dipahami maknanya, dihormati nilai-nilainya, serta diwariskan kepada generasi muda,” ujar Jimes.
Hendaq Pekayang diharapkan dapat terus dilaksanakan dan mendapat dukungan agar keberlangsungannya terjaga. Selain merawat adat dan mempererat hubungan masyarakat, kegiatan ini juga berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya dan ekonomi kreatif.
Editor: Aspian Nur


Pusat gempa berada di darat 39 km selatan Morowali Utara
17 Okt 2026, 22:45:27 WIB • Kedalaman 5 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG