Penulis : Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Kampung Tering Lama, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat, ramai didatangi warga Sabtu (17/10/2026) hari ini.
2 menit baca2 kali dibaca

Penulis : Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Kampung Tering Lama, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat, ramai didatangi warga Sabtu (17/10/2026) hari ini.
Mereka datang dari berbagai daerah di Kubar, bahkan dari luar daerah untuk menyaksikan Hendaq Pekayang, satu dari rangkaian adat Laliq Ugaal masyarakat Dayak Bahau.
Di lapangan Kantor Petinggi Tering Lama, masyarakat dari sepuluh kampung yang berasal dari Kecamatan Tering dan Long Iram menari mengelilingi lapangan dengan mengenakan busana adat. Mereka mengikuti alunan musik yang mengiringi tarian, sementara pengunjung menyaksikan kegiatan tersebut.
Disekitar lokasi, pengunjung juga bisa melihat berbagai kerajinan tangan khas Dayak yang dijajakan masyarakat. Mulai dari busana adat, gelang, kalung hingga aksesori kepala tersedia untuk dibeli.
Hendaq Pekayang tidak berdiri sendiri sebagai pertunjukan tari. Tradisi ini merupakan bagian dari Laliq Ugaal, ritual adat masyarakat Dayak Bahau yang berkaitan dengan musim tanam padi. Laliq Ugaal menjadi tradisi turun-temurun yang dijalankan masyarakat sebagai bentuk permohonan agar tanaman padi tumbuh subur dan terhindar dari gangguan hama. Dalam rangkaian adat tersebut, tarian Hendaq atau Hudoq menjadi bagian dari pelaksanaan tradisi.
Ketua Paguyuban Pekat Huang Bahau (PHB), Hermanus Tingang, mengatakan Hendaq Pekayang memiliki arti penting bagi masyarakat Bahau. Tradisi ini bukan hanya menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan antarkampung.
“Hendaq Pekayang bukanlah sekadar tarian atau pesta biasa. Ini adalah salah satu jati diri kita orang Dayak,” ujar Hermanus kepada Korankaltim.com disela kegiatan.
Masyarakat Bahau, khususnya seluruh pengurus PHB di tingkat kabupaten, kecamatan dan kampung diajak untuk menjaga persatuan melalui kegiatan adat tersebut karena berasal dari satu rumpun sehingga kebersamaan harus terus dipelihara.
Hermanus berharap Hendaq Pekayang tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat, termasuk melalui pariwisata dan ekonomi kreatif.
Berdasarkan hasil pengundian, pelaksanaan Hendaq Pekayang tahun depan direncanakan berlangsung di Kampung Tering Lama Ulu.
Dari sisi pemerintah, Sekretaris Kabupaten Kutai Barat Erick Victory mengatakan pelestarian budaya masyarakat adat menjadi bagian dari visi Bupati. Karena itu, dukungan pemerintah diperlukan agar tradisi seperti Hendaq Pekayang tetap terjaga.
“Pelestarian budaya terutama budaya masyarakat adat, budaya kita dan masyarakat asli lainnya itu merupakan salah satu dalam visi-visi Pak Bupati sehingga peran pemerintah sangat besar,” ujar Erick.
Pemerintah juga berupaya mengangkat kegiatan yang selama ini dilaksanakan oleh sepuluh kampung tersebut ke tingkat kabupaten. Salah satu rencana yang disiapkan ialah memasukkan Hendaq Pekayang ke dalam kalender tahunan Dinas Pariwisata.
Dengan rencana tersebut, Hendaq Pekayang diharapkan semakin dikenal luas, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi masyarakat Dayak Bahau agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor: Aspian Nur
Mereka datang dari berbagai daerah di Kubar, bahkan dari luar daerah untuk menyaksikan Hendaq Pekayang, satu dari rangkaian adat Laliq Ugaal masyarakat Dayak Bahau.
Di lapangan Kantor Petinggi Tering Lama, masyarakat dari sepuluh kampung yang berasal dari Kecamatan Tering dan Long Iram menari mengelilingi lapangan dengan mengenakan busana adat. Mereka mengikuti alunan musik yang mengiringi tarian, sementara pengunjung menyaksikan kegiatan tersebut.
Disekitar lokasi, pengunjung juga bisa melihat berbagai kerajinan tangan khas Dayak yang dijajakan masyarakat. Mulai dari busana adat, gelang, kalung hingga aksesori kepala tersedia untuk dibeli.
Hendaq Pekayang tidak berdiri sendiri sebagai pertunjukan tari. Tradisi ini merupakan bagian dari Laliq Ugaal, ritual adat masyarakat Dayak Bahau yang berkaitan dengan musim tanam padi. Laliq Ugaal menjadi tradisi turun-temurun yang dijalankan masyarakat sebagai bentuk permohonan agar tanaman padi tumbuh subur dan terhindar dari gangguan hama. Dalam rangkaian adat tersebut, tarian Hendaq atau Hudoq menjadi bagian dari pelaksanaan tradisi.

Ketua Paguyuban Pekat Huang Bahau (PHB), Hermanus Tingang, mengatakan Hendaq Pekayang memiliki arti penting bagi masyarakat Bahau. Tradisi ini bukan hanya menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan antarkampung.
“Hendaq Pekayang bukanlah sekadar tarian atau pesta biasa. Ini adalah salah satu jati diri kita orang Dayak,” ujar Hermanus kepada Korankaltim.com disela kegiatan.
Masyarakat Bahau, khususnya seluruh pengurus PHB di tingkat kabupaten, kecamatan dan kampung diajak untuk menjaga persatuan melalui kegiatan adat tersebut karena berasal dari satu rumpun sehingga kebersamaan harus terus dipelihara.
Hermanus berharap Hendaq Pekayang tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat, termasuk melalui pariwisata dan ekonomi kreatif.

Berdasarkan hasil pengundian, pelaksanaan Hendaq Pekayang tahun depan direncanakan berlangsung di Kampung Tering Lama Ulu.
Dari sisi pemerintah, Sekretaris Kabupaten Kutai Barat Erick Victory mengatakan pelestarian budaya masyarakat adat menjadi bagian dari visi Bupati. Karena itu, dukungan pemerintah diperlukan agar tradisi seperti Hendaq Pekayang tetap terjaga.
“Pelestarian budaya terutama budaya masyarakat adat, budaya kita dan masyarakat asli lainnya itu merupakan salah satu dalam visi-visi Pak Bupati sehingga peran pemerintah sangat besar,” ujar Erick.
Pemerintah juga berupaya mengangkat kegiatan yang selama ini dilaksanakan oleh sepuluh kampung tersebut ke tingkat kabupaten. Salah satu rencana yang disiapkan ialah memasukkan Hendaq Pekayang ke dalam kalender tahunan Dinas Pariwisata.
Dengan rencana tersebut, Hendaq Pekayang diharapkan semakin dikenal luas, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi masyarakat Dayak Bahau agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor: Aspian Nur



Pusat gempa berada di laut 49 km Barat KODI-SUMBABARATDAYA
17 Okt 2026, 19:46:17 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG