Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Barat (DLH Kubar) mendorong pemilahan sampah sejak dari rumah tangga untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA).
2 menit baca1 kali dibaca

Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Barat (DLH Kubar) mendorong pemilahan sampah sejak dari rumah tangga untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA).
Dalam peta jalan pengelolaan sampah daerah, setiap RT ditargetkan memiliki bank sampah unit sementara setiap kampung ditargetkan memiliki tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS 3R).
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas (PSLB3 & PK) DLH Kubar Josua Silaban mengatakan, pemilahan dari sumber merupakan bagian penting dalam memperbaiki pengelolaan sampah. Sampah yang sudah tercampur akan lebih sulit diolah dan dimanfaatkan kembali.
“Anggaran yang disiapkan hingga triliunan atau miliaran rupiah untuk penanganan sampah di hilir atau di TPA akan sia-sia jika sampah masih bercampur,” ujar Josua kepada Korankaltim.com, Selasa (13/10/2026).
Sampah yang tidak dipilah membuat kapasitas TPA lebih cepat terpakai. Selain itu, potensi ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan juga tidak bisa dioptimalkan.
Karena itu, pemilahan perlu dimulai dari rumah tangga sebelum sampah diangkut menuju tempat pengolahan atau TPA. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipisahkan untuk dimanfaatkan kembali, sedangkan residu ditangani sesuai kebutuhan.
Penyediaan fasilitas untuk mendukung pemilahan tersebut menjadi bagian dari arah pengembangan pengelolaan sampah di Kubar.
“Dalam roadmap pengelolaan sampah di Kubar, satu RT ditargetkan memiliki fasilitas bank sampah unit. Satu kampung juga ditargetkan memiliki fasilitas TPS 3R,” sebut Josua.
Bank sampah dapat menjadi sarana bagi warga untuk mengumpulkan sampah bernilai ekonomi, seperti plastik dan kertas. Sementara itu, TPS 3R mendukung upaya pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah di tingkat kampung. Namun penyediaan fasilitas perlu diikuti perubahan kebiasaan masyarakat. Tanpa pemilahan sejak awal, sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan masih berpotensi tercampur sehingga pemanfaatannya tidak optimal.
Dosen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman (Unmul) Juli Nurdiana menambahkan, persoalan pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga perilaku masyarakat.
“Masyarakat bisa saja sudah mengetahui pentingnya menjaga kebersihan dan memilah sampah, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Juli.
Perubahan perilaku masyarakat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebiasaan, keterbatasan fasilitas, hingga kepastian layanan pengangkutan sampah. Karena itu, edukasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Warga yang belum memahami cara memilah sampah perlu mendapat informasi mengenai jenis dan kategori sampah. Sementara itu, masyarakat yang ingin menyetorkan sampah bernilai ekonomi perlu mengetahui lokasi dan jadwal layanan bank sampah.
Editor: Aspian Nur
Dalam peta jalan pengelolaan sampah daerah, setiap RT ditargetkan memiliki bank sampah unit sementara setiap kampung ditargetkan memiliki tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS 3R).
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas (PSLB3 & PK) DLH Kubar Josua Silaban mengatakan, pemilahan dari sumber merupakan bagian penting dalam memperbaiki pengelolaan sampah. Sampah yang sudah tercampur akan lebih sulit diolah dan dimanfaatkan kembali.
“Anggaran yang disiapkan hingga triliunan atau miliaran rupiah untuk penanganan sampah di hilir atau di TPA akan sia-sia jika sampah masih bercampur,” ujar Josua kepada Korankaltim.com, Selasa (13/10/2026).
Sampah yang tidak dipilah membuat kapasitas TPA lebih cepat terpakai. Selain itu, potensi ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan juga tidak bisa dioptimalkan.
Karena itu, pemilahan perlu dimulai dari rumah tangga sebelum sampah diangkut menuju tempat pengolahan atau TPA. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipisahkan untuk dimanfaatkan kembali, sedangkan residu ditangani sesuai kebutuhan.
Penyediaan fasilitas untuk mendukung pemilahan tersebut menjadi bagian dari arah pengembangan pengelolaan sampah di Kubar.
“Dalam roadmap pengelolaan sampah di Kubar, satu RT ditargetkan memiliki fasilitas bank sampah unit. Satu kampung juga ditargetkan memiliki fasilitas TPS 3R,” sebut Josua.
Bank sampah dapat menjadi sarana bagi warga untuk mengumpulkan sampah bernilai ekonomi, seperti plastik dan kertas. Sementara itu, TPS 3R mendukung upaya pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah di tingkat kampung. Namun penyediaan fasilitas perlu diikuti perubahan kebiasaan masyarakat. Tanpa pemilahan sejak awal, sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan masih berpotensi tercampur sehingga pemanfaatannya tidak optimal.
Dosen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman (Unmul) Juli Nurdiana menambahkan, persoalan pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga perilaku masyarakat.
“Masyarakat bisa saja sudah mengetahui pentingnya menjaga kebersihan dan memilah sampah, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Juli.
Perubahan perilaku masyarakat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebiasaan, keterbatasan fasilitas, hingga kepastian layanan pengangkutan sampah. Karena itu, edukasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Warga yang belum memahami cara memilah sampah perlu mendapat informasi mengenai jenis dan kategori sampah. Sementara itu, masyarakat yang ingin menyetorkan sampah bernilai ekonomi perlu mengetahui lokasi dan jadwal layanan bank sampah.
Editor: Aspian Nur






166 kali dibaca

Pusat gempa berada di laut 15 km selatan Kodi-Sumba Barat Daya
13 Okt 2026, 13:42:28 WIB • Kedalaman 16 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG