Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau Rakhmadi Pasarakan menyebut, jumlah titik panas di Berau saat ini relatif sedikit, namun kondisi tersebut belum sejalan dengan dampak asap yang masih dirasakan masyarakat. “Hotspot di Berau hampir tidak ada,” kata Rakhmadi.
Berdasarkan data pemantauan satelit per 12 Oktober lalu, titik panas di Berau mencapai 53 titik dengan konsentrasi terbanyak berada di Kecamatan Talisayan sebanyak 16 titik. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan beberapa kabupaten lain di Kalimantan Timur.
Kutai Timur tercatat memiliki 235 titik panas, Kutai Kartanegara 328 titik, Kutai Barat 228 titik, dan Paser menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 418 titik.
Perbedaan jumlah titik panas tersebut menjadi perhatian dalam menelusuri kemungkinan sumber asap yang memengaruhi kualitas udara di Berau. Meski demikian, asal asap belum dapat dipastikan hanya berdasarkan data hotspot dan arah angin.
Sementara data pengamatan cuaca pada 10–12 Oktober menunjukkan suhu maksimum di Berau terus meningkat. Suhu tercatat 31,6 derajat Celsius pada 10 Oktober, naik menjadi 33,3 derajat Celsius pada 11 Oktober, dan mencapai 34,9 derajat Celsius pada 12 Oktober.
Jarak pandang juga bervariasi antara 0,8 hingga 4,5 kilometer, dengan jarak terendah hanya 800 meter. Kondisi cuaca yang teramati meliputi asap, kabut tipis, kabut, dan hujan ringan. Angin permukaan bertiup dengan kecepatan 2–7 kilometer per jam, dengan arah yang paling banyak teramati berasal dari selatan.
Rakhmadi menyebut pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menelusuri kemungkinan asal asap. Ia menduga asap berpotensi berasal dari luar Berau, termasuk Kalimantan Tengah.
“Kalau melihat pergerakan angin dari barat, kemungkinan besar dari Kalteng,” papar Rakhmadi.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi melalui data meteorologi dan pengukuran kualitas udara untuk memastikan sumber serta jalur pergerakan asap.
Ditengah kondisi cuaca panas dan minimnya hujan, Rakhmadi mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu karhutla. Kewaspadaan diperlukan untuk mencegah munculnya titik api baru yang dapat memperburuk kondisi lingkungan.
“Jangan melakukan pembakaran lahan, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan,” papar Rakhmadi.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau Zulkifli Azhari mengatakan, minimnya titik panas di wilayahnya perlu menjadi bahan evaluasi dalam melihat kondisi pencemaran udara.
“Kalau melihat pemantauan titik panas, jumlahnya di Berau minim dan semakin berkurang,” kata Zulkifli.
Apabila asap hanya bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal, penurunan jumlah titik panas dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan. Namun, kepastian sumber asap tetap membutuhkan data pengukuran kualitas udara yang memadai.
Persoalannya, DLHK Berau kini menghadapi kendala dalam melakukan pengukuran karena persediaan saringan alat pemantau kualitas udara telah habis. Padahal, pengukuran tersebut dibutuhkan untuk mengetahui tingkat pencemaran sekaligus memantau perubahan kondisi udara secara berkala.
Pihaknya telah mengusulkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup agar pemantauan kualitas udara dapat dilakukan secara otomatis dengan pembaruan data setiap hari.
"Kami sudah usulkan. Karena alat ini penting untuk memperoleh informasi yang lebih akurat, meskipun membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit," tutup Zulkifli.
Editor: Aspian Nur
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau Rakhmadi Pasarakan menyebut, jumlah titik panas di Berau saat ini relatif sedikit, namun kondisi tersebut belum sejalan dengan dampak asap yang masih dirasakan masyarakat. “Hotspot di Berau hampir tidak ada,” kata Rakhmadi.
Berdasarkan data pemantauan satelit per 12 Oktober lalu, titik panas di Berau mencapai 53 titik dengan konsentrasi terbanyak berada di Kecamatan Talisayan sebanyak 16 titik. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan beberapa kabupaten lain di Kalimantan Timur.
Kutai Timur tercatat memiliki 235 titik panas, Kutai Kartanegara 328 titik, Kutai Barat 228 titik, dan Paser menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 418 titik.
Perbedaan jumlah titik panas tersebut menjadi perhatian dalam menelusuri kemungkinan sumber asap yang memengaruhi kualitas udara di Berau. Meski demikian, asal asap belum dapat dipastikan hanya berdasarkan data hotspot dan arah angin.
Sementara data pengamatan cuaca pada 10–12 Oktober menunjukkan suhu maksimum di Berau terus meningkat. Suhu tercatat 31,6 derajat Celsius pada 10 Oktober, naik menjadi 33,3 derajat Celsius pada 11 Oktober, dan mencapai 34,9 derajat Celsius pada 12 Oktober.
Jarak pandang juga bervariasi antara 0,8 hingga 4,5 kilometer, dengan jarak terendah hanya 800 meter. Kondisi cuaca yang teramati meliputi asap, kabut tipis, kabut, dan hujan ringan. Angin permukaan bertiup dengan kecepatan 2–7 kilometer per jam, dengan arah yang paling banyak teramati berasal dari selatan.
Rakhmadi menyebut pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menelusuri kemungkinan asal asap. Ia menduga asap berpotensi berasal dari luar Berau, termasuk Kalimantan Tengah.
“Kalau melihat pergerakan angin dari barat, kemungkinan besar dari Kalteng,” papar Rakhmadi.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi melalui data meteorologi dan pengukuran kualitas udara untuk memastikan sumber serta jalur pergerakan asap.
Ditengah kondisi cuaca panas dan minimnya hujan, Rakhmadi mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu karhutla. Kewaspadaan diperlukan untuk mencegah munculnya titik api baru yang dapat memperburuk kondisi lingkungan.
“Jangan melakukan pembakaran lahan, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan,” papar Rakhmadi.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau Zulkifli Azhari mengatakan, minimnya titik panas di wilayahnya perlu menjadi bahan evaluasi dalam melihat kondisi pencemaran udara.