Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Kondisi kualitas udara di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) belum menunjukkan perubahan hingga memasuki Oktober 2026.
2 menit baca4 kali dibaca

Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Kondisi kualitas udara di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) belum menunjukkan perubahan hingga memasuki Oktober 2026.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mahulu menyebut perkembangan kondisi udara masih cenderung sama seperti periode sebelumnya.
Kepala DLH Mahulu Solman mengatakan, pemantauan yang dilakukan pihaknya belum menunjukkan perubahan signifikan terhadap kondisi udara di daerah tersebut.
“Kalau dilihat perkembangan ini, trennya masih tetap sama. Jadi, belum ada perubahan. Masih tetap seperti kemarin,” kata Solman.
Menurutnya, kondisi serupa juga terlihat saat dirinya melakukan perjalanan ke sejumlah daerah, faktor yang memengaruhi kondisi tersebut dinilai relatif sama.
“Faktornya hampir sama semua. Jadi, belum ada perubahan,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Solman menilai pemantauan kualitas udara secara langsung di Mahulu tetap penting. Pasalnya, pemerintah daerah tidak bisa sepenuhnya menjadikan hasil pemantauan dari wilayah lain sebagai patokan untuk menggambarkan kondisi lingkungan di Mahulu.
Menurutnya, jangkauan alat pemantau kualitas udara otomatis (AQMS) relatif terbatas, yakni sekitar lima kilometer.
Karena itu, keberadaan alat di daerah lain belum tentu dapat menggambarkan kondisi udara di wilayah Mahulu.
“Kita tidak memungkinkan berpatokan pada daerah lain. Sementara itu jangkauannya terlalu pendek. AQMS radiusnya 5 kilometer,” katanya.
Solman mengatakan, kebutuhan terhadap alat pemantau kualitas udara baru menjadi perhatian serius tahun ini.
Sebelumnya, DLH Mahulu belum mengusulkan pengadaan alat karena kondisi kemarau pada tahun-tahun sebelumnya dinilai tidak berlangsung lama.
“Kita sebelumnya belum ada mengusulkan memang, karena baru tahun ini memang ada kondisi yang begitu parah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi kemarau pada tahun sebelumnya hanya berlangsung dalam waktu singkat sehingga belum menimbulkan situasi seperti yang terjadi tahun ini.
“Kalau tahun sebelumnya belum ada kondisi begini, cuma sebentar, tidak lama seperti tahun ini. Dan kemaraunya tidak panjang juga tahun sebelumnya,” katanya.
Saat ini, DLH Mahulu telah mengupayakan pengadaan alat pemantau kualitas udara. Solman mengatakan, usulan tersebut masih menunggu persetujuan dan dapat ditempuh melalui pengadaan oleh pemerintah kabupaten maupun dukungan dari pemerintah pusat.
Ia berharap pemantauan kualitas udara di Mahulu ke depan dapat dilakukan dengan data yang berasal langsung dari wilayah setempat, sehingga perkembangan kondisi lingkungan dapat diketahui secara lebih spesifik.
Editor: Erwin
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mahulu menyebut perkembangan kondisi udara masih cenderung sama seperti periode sebelumnya.
Kepala DLH Mahulu Solman mengatakan, pemantauan yang dilakukan pihaknya belum menunjukkan perubahan signifikan terhadap kondisi udara di daerah tersebut.
“Kalau dilihat perkembangan ini, trennya masih tetap sama. Jadi, belum ada perubahan. Masih tetap seperti kemarin,” kata Solman.
Menurutnya, kondisi serupa juga terlihat saat dirinya melakukan perjalanan ke sejumlah daerah, faktor yang memengaruhi kondisi tersebut dinilai relatif sama.

“Faktornya hampir sama semua. Jadi, belum ada perubahan,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Solman menilai pemantauan kualitas udara secara langsung di Mahulu tetap penting. Pasalnya, pemerintah daerah tidak bisa sepenuhnya menjadikan hasil pemantauan dari wilayah lain sebagai patokan untuk menggambarkan kondisi lingkungan di Mahulu.
Menurutnya, jangkauan alat pemantau kualitas udara otomatis (AQMS) relatif terbatas, yakni sekitar lima kilometer.
Karena itu, keberadaan alat di daerah lain belum tentu dapat menggambarkan kondisi udara di wilayah Mahulu.
“Kita tidak memungkinkan berpatokan pada daerah lain. Sementara itu jangkauannya terlalu pendek. AQMS radiusnya 5 kilometer,” katanya.
Solman mengatakan, kebutuhan terhadap alat pemantau kualitas udara baru menjadi perhatian serius tahun ini.
Sebelumnya, DLH Mahulu belum mengusulkan pengadaan alat karena kondisi kemarau pada tahun-tahun sebelumnya dinilai tidak berlangsung lama.
“Kita sebelumnya belum ada mengusulkan memang, karena baru tahun ini memang ada kondisi yang begitu parah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi kemarau pada tahun sebelumnya hanya berlangsung dalam waktu singkat sehingga belum menimbulkan situasi seperti yang terjadi tahun ini.
“Kalau tahun sebelumnya belum ada kondisi begini, cuma sebentar, tidak lama seperti tahun ini. Dan kemaraunya tidak panjang juga tahun sebelumnya,” katanya.
Saat ini, DLH Mahulu telah mengupayakan pengadaan alat pemantau kualitas udara. Solman mengatakan, usulan tersebut masih menunggu persetujuan dan dapat ditempuh melalui pengadaan oleh pemerintah kabupaten maupun dukungan dari pemerintah pusat.
Ia berharap pemantauan kualitas udara di Mahulu ke depan dapat dilakukan dengan data yang berasal langsung dari wilayah setempat, sehingga perkembangan kondisi lingkungan dapat diketahui secara lebih spesifik.
Editor: Erwin







Pusat gempa berada di laut 44 km selatan Kab. Blitar
12 Okt 2026, 12:28:13 WIB • Kedalaman 101 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG