Pembahasan kajian tersebut berlangsung melalui Focus Group Discussion (FGD) di Auditorium Aji Tulur Jejangkat Sendawar, Senin (12/10/2026) yang diarahkan untuk merumuskan strategi komunikasi dan edukasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat, terutama dalam mendorong keterlibatan warga mengurangi dan memilah sampah.
Kepala DLH Kubar Bandarsyah menyebut persoalan sampah di daerah ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan masyarakat, tetapi juga menyangkut fasilitas pengolahan dan ketersediaan data persampahan.
“Pengelolaan sampah di Kabupaten Kutai Barat masih menghadapi berbagai tantangan. Antara lain pemilahan sampah dari sumber yang belum optimal,” kata Bandarsyah kepada Korankaltim.com
Keterbatasan fasilitas pengolahan, data mengenai timbulan dan komposisi sampah, serta kebutuhan penguatan sarana dan kelembagaan turut menjadi perhatian DLH. Berbagai persoalan tersebut perlu dipetakan agar strategi yang dirumuskan tidak berhenti pada imbauan kepada masyarakat, tetapi juga mempertimbangkan kendala yang dihadapi di lapangan.
Di sisi lain, peningkatan volume sampah juga menjadi persoalan yang perlu diantisipasi seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Sekretaris Kabupaten Kubar, Erick Victory, menilai pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya, bukan hanya mengandalkan pengangkutan dan pembuangan akhir.
“Kubar membutuhkan perubahan paradigma di hulu, yaitu pengurangan sampah langsung dari sumbernya melalui keterlibatan aktif masyarakat,” kata Erick.
Pelibatan berbagai pihak juga menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga dukungan akademisi, dunia usaha, komunitas lingkungan, media, dan masyarakat diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus mendorong praktik pengelolaan sampah yang lebih baik.
Melalui kajian akademik ini, DLH Kubar bersama tim Universitas Mulawarman diharapkan dapat merumuskan strategi KIE yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan dapat diterapkan dalam program nyata. Dengan begitu, upaya pengelolaan sampah tidak hanya bertumpu pada penanganan setelah sampah terkumpul, tetapi juga pada pengurangan sejak dari sumbernya.
Editor: Aspian Nur
Pembahasan kajian tersebut berlangsung melalui Focus Group Discussion (FGD) di Auditorium Aji Tulur Jejangkat Sendawar, Senin (12/10/2026) yang diarahkan untuk merumuskan strategi komunikasi dan edukasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat, terutama dalam mendorong keterlibatan warga mengurangi dan memilah sampah.
Kepala DLH Kubar Bandarsyah menyebut persoalan sampah di daerah ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan masyarakat, tetapi juga menyangkut fasilitas pengolahan dan ketersediaan data persampahan.
“Pengelolaan sampah di Kabupaten Kutai Barat masih menghadapi berbagai tantangan. Antara lain pemilahan sampah dari sumber yang belum optimal,” kata Bandarsyah kepada Korankaltim.com
Keterbatasan fasilitas pengolahan, data mengenai timbulan dan komposisi sampah, serta kebutuhan penguatan sarana dan kelembagaan turut menjadi perhatian DLH. Berbagai persoalan tersebut perlu dipetakan agar strategi yang dirumuskan tidak berhenti pada imbauan kepada masyarakat, tetapi juga mempertimbangkan kendala yang dihadapi di lapangan.
Di sisi lain, peningkatan volume sampah juga menjadi persoalan yang perlu diantisipasi seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Sekretaris Kabupaten Kubar, Erick Victory, menilai pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya, bukan hanya mengandalkan pengangkutan dan pembuangan akhir.
“Kubar membutuhkan perubahan paradigma di hulu, yaitu pengurangan sampah langsung dari sumbernya melalui keterlibatan aktif masyarakat,” kata Erick.
Pelibatan berbagai pihak juga menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga dukungan akademisi, dunia usaha, komunitas lingkungan, media, dan masyarakat diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus mendorong praktik pengelolaan sampah yang lebih baik.
Melalui kajian akademik ini, DLH Kubar bersama tim Universitas Mulawarman diharapkan dapat merumuskan strategi KIE yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan dapat diterapkan dalam program nyata. Dengan begitu, upaya pengelolaan sampah tidak hanya bertumpu pada penanganan setelah sampah terkumpul, tetapi juga pada pengurangan sejak dari sumbernya.