Sabtu, 15/08/2026

Lokasi Sulit Ditembus Api Kian Meluas, Karhutla di Jempang Sudah Berlangsung Tiga Hari

Sabtu, 15/08/2026

Foto udara kawasan karhutla di Kampung Muara Ohong, Kecamatan Jempang, Kutai Barat (BPBD Kubar)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Lokasi Sulit Ditembus Api Kian Meluas, Karhutla di Jempang Sudah Berlangsung Tiga Hari

Sabtu, 15/08/2026

logo

Foto udara kawasan karhutla di Kampung Muara Ohong, Kecamatan Jempang, Kutai Barat (BPBD Kubar)

Penulis : Kusmas Riadi

KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan gambut di Kampung Muara Ohong, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat (Kubar). 

Kebakaran berlangsung sejak Kamis (13/8/2026) lalu dan hingga Sabtu (15/8/2026) hari ini belum padam sementara api dan asap masih terlihat di kawasan yang terbakar. Kapolsek Jempang AKP Suyoto mengatakan, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai lebih dari 100 hektare. Kobaran api terlihat memanjang dari kawasan Muara Ohong hingga mengarah ke Kampung Perigiq. 

Polsek Jempang bersama tim BPBD Kubar telah berupaya menuju lokasi kebakaran. Namun, petugas belum dapat mencapai titik api karena medan yang harus dilalui berupa rawa. Jarak lokasi kebakaran dari Kampung Muara Ohong diperkirakan sekitar 4 kilometer. Jalur air juga belum dapat digunakan karena terdapat anak sungai menuju lokasi yang kondisinya kering. “Kalau mau masuk, terkendala karena melewati rawa. Mau pakai jalur air ada anak sungai, tapi kering,” ujar Suyoto kepada Korankaltim.com. 

Petinggi Kampung Muara Ohong Aliansyah mengatakan, kebakaran mulai terjadi pada 13 Agustus 2026. Kawasan yang terbakar memang sulit dijangkau karena berada di lahan gambut. "Susah untuk ke sana, tidak ada aksesnya dan lahan gambut,” kata Aliansyah. Kawasan tersebut merupakan rawa yang tergenang ketika musim banjir. Saat air surut dan memasuki musim kemarau, lahan mengering. Namun, kondisi itu tetap menyulitkan karena tidak tersedia akses jalan menuju lokasi. 

“Walaupun keras, tidak ada akses jalan. Lewat mana pun tidak bisa. Kecuali kita jalan kaki,” ujarnya. Kondisi lahan gambut yang kering juga membuat masih banyak material yang berpotensi terbakar. Rumput, pepohonan dan ranting di kawasan tersebut dapat menjadi bahan bakar yang membuat api terus menjalar. “Masih banyak. Karena memang alam gambut banyak yang kering. Rumput-rumputnya, pohon-pohon yang ranting itu,” kata Aliansyah. 

Sementara itu, arah angin dalam beberapa hari terakhir bergerak dari timur menuju barat. Kondisi tersebut membuat kobaran api belum mengarah ke permukiman Kampung Muara Ohong. Namun kondisi itu dapat berubah apabila arah angin berbalik dari barat. 

“Kalau angin balik dari barat mengarahnya ke Ohong,” ujarnya. Dengan lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, Aliansyah menilai pemadaman melalui udara dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjangkau kawasan yang terbakar. 

“Kalau untuk pemadaman, kalau kita misalnya ingin melakukan itu, ya mungkin lewat udara. Kalau lewat daratan, enggak ada. Sama sekali enggak ada,” ujar Aliansyah. Petugas gabungan dari BPBD Kubar, KPH Damai, TNI dan Polri masih berkoordinasi dalam penanganan karhutla serta mengantisipasi agar api tidak meluas ke arah permukiman warga. 

Editor: Aspian Nur

Lokasi Sulit Ditembus Api Kian Meluas, Karhutla di Jempang Sudah Berlangsung Tiga Hari

Sabtu, 15/08/2026

Foto udara kawasan karhutla di Kampung Muara Ohong, Kecamatan Jempang, Kutai Barat (BPBD Kubar)

Share

Berita Terkait