Jumat, 31/07/2026

Karakter Lahan Tantangan Pengembangan Pertanian di Kutai Barat

Jumat, 31/07/2026

Kegiatan penanaman padi lokal Mayas di Kampung Geleo Baru, Kecamatan Barong Tongkok, Jumat (3/10/2025). (Adi/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Karakter Lahan Tantangan Pengembangan Pertanian di Kutai Barat

Jumat, 31/07/2026

logo

Kegiatan penanaman padi lokal Mayas di Kampung Geleo Baru, Kecamatan Barong Tongkok, Jumat (3/10/2025). (Adi/Korankaltim.com)

Penulis: Kusmas Riadi

KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Karakteristik lahan menjadi satu tantangan utama dalam pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Kutai Barat (Kubar).

Kondisi tersebut membuat strategi pengelolaan dan pengembangan pertanian harus disesuaikan dengan potensi serta karakter tanah yang dimiliki daerah. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kutai Barat Stepanus Alexander Samson menjelaskan, pengembangan pertanian di Kubar tidak dapat disamakan dengan daerah lain karena setiap wilayah memiliki karakteristik lahan yang berbeda.

Menurutnya, strategi budidaya harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar hasil yang diperoleh lebih optimal. "Kalau dibandingkan dengan Pulau Jawa tentu berbeda. Di sana tanahnya memang lebih subur dan didukung sistem pengairan yang lebih baik. Sementara di Kubar kondisi lahannya memiliki karakteristik tersendiri sehingga cara pengelolaannya juga harus berbeda," ujar Samson kepada Korankaltim.com, Jumat (31/7/2026).

Sebagian besar lahan di Kubar didominasi tanah merah kuning yang memiliki pH relatif rendah atau bersifat asam. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan tanaman pangan, terutama varietas unggul yang membutuhkan tingkat kesuburan tanah lebih baik. Selain itu lapisan tanah subur atau topsoil di Kubar juga relatif tipis.

Karena itu pembukaan lahan harus dilakukan secara hati-hati agar lapisan tanah subur tidak hilang. Jika pengolahan dilakukan terlalu dalam, lahan justru akan semakin sulit dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Kondisi tersebut menjadi alasan padi lokal masih banyak dibudidayakan petani. Varietas lokal dinilai lebih mampu beradaptasi dengan kondisi lahan Kubar dibandingkan varietas unggul yang membutuhkan perlakuan budidaya lebih intensif. Untuk membudidayakan varietas padi berproduksi tinggi diperlukan proses pengapuran guna meningkatkan pH atau mengurangi tingkat keasaman tanah.

Namun kebutuhan kapur dalam jumlah besar membuat biaya produksi menjadi cukup tinggi sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi petani.

"Kami harus menyesuaikan dengan kondisi lahan yang ada. Jangan memaksakan pola budidaya yang tidak sesuai karena setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda," papar Samson. Meski menghadapi berbagai tantangan, Samson menilai sektor pertanian Kubar masih memiliki prospek yang cukup baik apabila pengembangannya disesuaikan dengan potensi daerah.

Salah satunya dengan mendorong petani mengembangkan lebih dari satu komoditas sehingga tidak bergantung pada satu jenis tanaman. Pola tanam multikomoditas dapat mengurangi risiko kerugian apabila salah satu tanaman mengalami gagal panen akibat serangan hama maupun faktor cuaca. 

Editor: Aspian Nur

Karakter Lahan Tantangan Pengembangan Pertanian di Kutai Barat

Jumat, 31/07/2026

Kegiatan penanaman padi lokal Mayas di Kampung Geleo Baru, Kecamatan Barong Tongkok, Jumat (3/10/2025). (Adi/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait