Produksi yang dihasilkan kini mencapai sekitar 1.440 butir telur per bulan dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.
Usaha tersebut dijalankan secara mandiri oleh sekelompok pemuda kampung dan mulai membuka peluang ekonomi baru di tingkat lokal. Selain menjadi sumber penghasilan, kegiatan ini juga mulai membentuk pola distribusi sederhana di lingkungan setempat.
Agustian, Ketua Himpunan Pemuda Mandiri (HPM) IPU Green mengatakan, proses yang mereka jalani tidak instan. Seluruh anggota harus belajar dari awal tanpa pengalaman di bidang peternakan.
“Awalnya kami tidak punya dasar sama sekali. Jadi semua dipelajari bertahap, mulai dari perawatan ayam sampai memahami pola produksi,” kata Agustian kepada Korankaltim.com, Minggu (19/4/2026).
Kelompok ini sendiri mulai dirintis pada 2024 dengan jumlah anggota tujuh orang. Dalam perjalanannya, berbagai kendala teknis sempat dihadapi, terutama dalam pengelolaan pakan dan menjaga kesehatan ternak.
Namun pengalaman di lapangan justru menjadi modal utama dalam meningkatkan kemampuan kelompok. “Kalau ada kendala, kami evaluasi bersama. Dari situ kami tahu apa yang harus diperbaiki supaya hasilnya bisa lebih stabil,” sebutnya.
Selain memperkuat produksi, mereka juga mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas pemasaran. Cara tersebut dinilai lebih efektif dalam menjangkau konsumen tanpa bergantung pada sistem distribusi konvensional.
“Sekarang kami bisa langsung menawarkan produk ke pembeli. Itu membantu sekali dalam memperluas pasar,” papar Agustian.
Meski begitu keberhasilan usaha tetap ditentukan oleh komitmen dan kerja sama internal kelompok. “Yang paling penting itu kemauan belajar dan kekompakan. Kalau itu terjaga, usaha bisa berkembang meski dimulai dari kecil,” ucapnya.
Ke depan mereka menargetkan peningkatan kapasitas produksi seiring bertambahnya permintaan, sekaligus menjaga kualitas hasil ternak agar mampu bersaing di pasar lokal.
Editor: Aspian Nur