Petinggi Kampung Rejo Basuki Suhendro Arianto yang juga berprofesi sebagai petani menyebutkan, produksi pertanian di wilayahnya cukup melimpah, khususnya komoditas sayur-sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, timun hingga tomat. Tanaman tersebut tumbuh subur dan rutin dipanen, namun belum sepenuhnya memberi keuntungan maksimal bagi petani. “Masalah utama kami itu di pasar. Hasil panen sebenarnya banyak, tapi tidak semuanya bisa terserap karena belum ada pasar induk. Harga juga tidak stabil, jadi petani sulit.” kata Suhendro kepada Korankaltim.com, Jumat (17/4/2026).
Selama ini petani hanya mengandalkan pedagang yang datang langsung ke ladang. Sistem tersebut dinilai belum mampu menampung hasil panen dalam jumlah besar, terutama saat produksi meningkat. Kondisi ini berdampak langsung pada hasil panen petani. Tidak sedikit komoditas yang akhirnya tidak terserap pasar. Bahkan, dalam beberapa kasus, hasil panen terpaksa dibiarkan karena tidak laku dijual.
“Kami pernah panen timun, tapi cuma dua kali panen yang terserap. Sisanya tidak terpanen karena pasar tidak mampu menampung,” ungkapnya.
Keberadaan pasar induk sangat dibutuhkan sebagai pusat penampungan hasil pertanian sebelum didistribusikan ke daerah lain. Dengan adanya pasar induk, hasil panen petani diharapkan tidak lagi terbuang dan dapat terserap secara optimal. Di sisi lain, petani juga dihadapkan pada tingginya biaya produksi, terutama akibat kenaikan harga pupuk. Kondisi ini semakin menyulitkan karena petani tidak memiliki kendali terhadap harga jual. “Kalau kami paksakan harga tidak akan laku. Jadi mau tidak mau kami ikut harga pasar,” katanya.
Selain itu, faktor infrastruktur juga menjadi kendala yang tidak kalah penting. Akses jalan yang belum optimal membuat distribusi hasil pertanian ke luar daerah, seperti ke Samarinda, menjadi kurang efisien dari segi waktu dan biaya. “Kalau mau kirim ke luar daerah sebenarnya bisa, tapi terkendala jarak, waktu dan kondisi jalan. Itu sangat berpengaruh,” paparnya.
Pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini, khususnya dengan menghadirkan pasar induk di Kubar. Selain itu, dukungan berupa pembinaan, pendampingan, serta bantuan sarana produksi seperti bibit dan pupuk juga dinilai masih sangat dibutuhkan. “Harapan kami ke depan ada pasar induk, supaya hasil panen petani bisa terserap semua,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur