Penyuluh Pertanian Madya dari Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BSIP) Kalimantan Timur Ludy Kartika Kristianto menjelaskan, program cetak sawah difokuskan pada pembukaan lahan baru yang sebelumnya belum pernah ditanami padi.
“Program cetak sawah rakyat ini diperuntukkan bagi lahan-lahan yang sebelumnya belum pernah dilakukan penanaman padi, sehingga petani bisa mengalokasikan lahannya menjadi sawah produktif,” kata Ludy saat dikonfirmasi Korankaltim.com Sabtu (11/4/2026).
Selain pembukaan lahan baru, pemerintah juga mendorong optimalisasi lahan yang sempat ditinggalkan melalui program rehabilitasi. “Untuk lahan yang dulu pernah ditanami padi tetapi beberapa tahun terakhir tidak dimanfaatkan, itu bisa masuk dalam program rehabilitasi agar kembali menjadi sawah,” jelasnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan produksi padi di Mahulu sebagai daerah perbatasan.
Disisi lain, penerapan teknologi pertanian modern mulai diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan efisiensi sekaligus menarik minat generasi muda. Sejumlah inovasi telah diterapkan di lapangan, seperti penggunaan benih unggul, sistem tanam jajar legowo, hingga pemanfaatan alat mesin pertanian seperti transplanter dan drone untuk penanaman.
“Kami ingin memberikan percontohan bagaimana pertanian di Mahulu bisa bertransformasi dari konvensional menjadi modern melalui demplot-demplot yang sudah kami siapkan,” ucap Ludy lagi.
Modernisasi pertanian menjadi penting mengingat minat generasi muda terhadap sektor pertanian cenderung menurun.
“Dengan adanya alat dan teknologi, pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan berat dan kotor. Harapannya ini bisa menarik minat anak muda untuk kembali ke sektor pertanian,” sebutnya.
Melalui kombinasi perluasan lahan dan pemanfaatan teknologi, pemerintah optimistis sektor pertanian di Mahulu dapat berkembang lebih maju sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.
Editor: Aspian Nur