Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Mahulu, Semion T Agung menjelaskan, penggunaan drone difokuskan untuk penebaran benih maupun pupuk secara efisien. “Unit drone yang kita gunakan ini sudah dikhususkan untuk penebaran. Nozzle untuk penyemprotan cairan sudah dinonaktifkan dan diganti dengan tabung untuk benih maupun pupuk,” kata Semiion kepada Korankaltim.com Jumat (10/4/2026).
Teknologi ini mampu mempercepat proses tanam secara signifikan. Dalam satu hektare lahan, drone hanya membutuhkan sekitar tiga kali pengisian dengan kapasitas 20 kilogram per terbang. “Untuk satu hektare bisa tiga kali terbang, dan waktunya sangat singkat. Ini tentu jauh lebih efisien dibandingkan metode manual,” jelasnya.
Selain itu sistem pengoperasian drone juga dapat dilakukan secara otomatis melalui jalur yang telah diprogram sebelumnya, sehingga memudahkan pekerjaan petani di lapangan. “Pilot bisa mengendalikan secara manual, tapi juga bisa otomatis. Hari ini kita gunakan sistem otomatis, jalurnya sudah direkam sebelumnya,” papar Semion lagi.
Nantinya Pemkab Mahulu menargetkan pembentukan Brigade Pangan sebagai upaya pengelolaan lahan pertanian secara modern dan terorganisir. Jika terbentuk, pemerintah pusat siap memberikan dukungan alat dan mesin pertanian dalam jumlah besar. “Nilai bantuan alsintan dari kementerian bisa mencapai Rp3,5 Miliar sampai Rp4 Miliar, termasuk traktor, drone hingga mesin panen,” ungkapnya.
Program ini juga diarahkan untuk mengelola lahan dalam skala luas, minimal 150 hingga 200 hektare, dengan sistem kerja berbasis kelompok dan mekanisasi penuh. Dalam skema tersebut, petani pemilik lahan akan mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan yang dilakukan oleh tim Brigade Pangan.
Pemanfaatan teknologi drone ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi sektor pertanian di Mahulu, sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam mendukung ketahanan pangan daerah.
Editor: Aspian Nur