Kepala Subbag Tata Usaha Kementerian Haji dan Umrah Kutai Barat Muhammad Rafik menyampaikan hal itu saat ditemui usai pembukaan manasik haji di aula Gedung PLHUT Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kubar, Kamis (9/4/2026). “Awalnya ada tujuh orang yang masuk dalam kuota. Namun saat pelunasan, hanya empat yang melunasi. Satu orang meninggal dunia dan ahli waris tidak melanjutkan, sementara dua lainnya memilih menunda,” kata Rafik kepada Korankaltim.com.
Sebenarnya terdapat tambahan kuota cadangan sebanyak lima orang. Namun seluruh calon jemaah dalam daftar cadangan juga memilih menunda keberangkatan. “Sehingga sampai tahap pelunasan kedua, jumlah tetap tidak bertambah. Akhirnya yang berangkat hanya empat orang, dan sisa kuota dikembalikan ke provinsi,” jelasnya.
Perubahan sistem penentuan kuota menjadi satu dari beberapa faktor yang memengaruhi jumlah jemaah haji di daerah. Jika sebelumnya kuota ditetapkan per kabupaten/kota, kini dialihkan menjadi berbasis provinsi. “Dulu perhitungannya sekitar satu orang per seribu penduduk muslim. Di Kubar sendiri, jumlah muslim sekitar 87 ribu, sehingga kuotanya bisa mencapai 80-an orang. Sekarang sistemnya berdasarkan urutan pendaftaran di tingkat provinsi,” sebut Rafik.
Dengan sistem baru tersebut antrean haji diharapkan menjadi lebih singkat. Untuk Kalimantan Timur, masa tunggu yang sebelumnya sekitar 30 tahun kini berkurang menjadi sekitar 26 tahun.
“Siapa yang mendaftar lebih dulu, dia yang berangkat lebih dulu,” katanya.
Terkait persiapan, seluruh tahapan dipastikan berjalan lancar. Progres pengurusan visa jemaah telah mencapai sekitar 99 persen dan tinggal menunggu pencetakan kartu nusuk sebagai identitas selama di Arab Saudi. “Secara umum tidak ada kendala, semuanya berjalan sesuai rencana,” ucap Rafik.
Untuk jadwal keberangkatan, jemaah haji Kubar masuk dalam Kloter 17 atau kloter terakhir gelombang kedua dengan jadwal masuk asrama haji pada 20 Mei mendatang.
Sementara mekanisme keberangkatan dari Kubar masih dalam pembahasan bersama pemerintah daerah, dengan dua opsi yang dipertimbangkan, yakni melalui jalur udara atau jalur sungai. “Nanti akan diputuskan dalam rapat bersama pemerintah daerah, biasanya sekitar seminggu sebelum keberangkatan,” jelasnya.
Wakil Bupati Kubar Nanang Adriani saat membuka kegiatan manasik haji menegaskan kegiatan itu memiliki peran penting dalam membekali jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci. “Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga membutuhkan kesiapan lahir dan batin serta pemahaman tata cara ibadah,” kata Nanang.
Para calon jemaah diingatkan untuk menjaga kesehatan, memperkuat niat serta menjaga nama baik daerah selama menjalankan ibadah haji. “Bapak dan Ibu adalah duta daerah. Jaga kebersamaan, patuhi petugas, dan manfaatkan manasik ini sebagai bekal agar dapat menjalankan ibadah dengan tertib dan mandiri,” pesannya.
Dengan berbagai persiapan yang dilakukan, diharapkan seluruh jemaah haji asal Kubar dapat menunaikan ibadah dengan lancar dan kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur.
Editor: Aspian Nur