Asisten I Sekretariat Kabupaten Mahulu Agustinus Teguh Santoso menyebut tradisi tersebut memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam menjaga keseimbangan lingkungan. “Syukuran Laliq Ataq pare maring tidak hanya sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam,” kata Agustinus Selasa (7/4/2026).
Keberhasilan panen tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang tetap terjaga. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk terus merawat alam sebagai sumber kehidupan dan juga berperan dalam memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan. “Pelestarian tradisi syukuran pare maring juga menjadi bagian dari strategi menjaga identitas budaya daerah, sekaligus menunjukkan bahwa nilai tradisional dapat berjalan seiring dengan pembangunan modern,” papar Agustinus.
Selain sebagai ungkapan syukur, Laliq Ataq juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat serta memperkuat nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Pemerintah daerah pun berharap tradisi ini terus dilestarikan, terutama oleh generasi muda, agar tetap menjadi bagian penting dalam menjaga jati diri budaya masyarakat Mahakam Ulu di tengah perkembangan zaman.
Editor: Aspian Nur