Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan menyampaikan skema pengelolaan lahan pangan seluas 10 hektare per desa tetap menjadi prioritas dalam strategi ketahanan pangan daerah.
Ditengah budaya masyarakat Mahulu yang selama ini identik dengan sistem berladang, muncul pertanyaan soal antusiasme warga terhadap pengembangan sawah menetap.
Diakuinya perbedaan pola tanam tersebut menjadi tantangan tersendiri, namun ia melihat semangat masyarakat mulai tumbuh.
“Kita tahu budaya kita berladang. Tapi kalau sawah berhasil, apalagi bisa panen dua kali setahun, tentu masyarakat juga akan semakin antusias,” ujar Angela Jumat (20/2/2026).
Keberhasilan percontohan akan menjadi kunci. Jika masyarakat melihat hasil yang nyata, kepercayaan untuk mengembangkan pola tanam sawah akan semakin kuat.
Tak hanya beras, Pemkab Mahulu juga mendorong diversifikasi pemanfaatan lahan. Dari total 10 hektare per desa, Angela mengusulkan agar sebagian dialokasikan untuk tanaman jagung.
“Dari 10 hektare itu kalau bisa dibagi juga untuk jagung karena sekarang peternakan mulai berkembang. Pakan ternak dari jagung ini penting,” ucap Angela lagi.
Produksi jagung lokal dapat menekan biaya pakan ternak yang selama ini masih bergantung dari luar daerah. Selain mengurangi ongkos distribusi, langkah tersebut juga memperkuat keterhubungan antara sektor pertanian dan peternakan di daerah.
“Kalau produksi sendiri kan lebih hemat. Tidak hanya mengurangi biaya, tapi juga saling terhubung antara pertanian dan peternakan,” jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, program lahan 10 hektare per desa tidak hanya difokuskan pada ketersediaan beras, tetapi juga diarahkan untuk menopang kebutuhan pakan ternak dan meningkatkan perputaran ekonomi lokal.
Pemkab Mahulu optimistis, melalui evaluasi dan penguatan pendampingan, program ini dapat berjalan lebih optimal dan menjadi fondasi kemandirian pangan yang berkelanjutan di wilayah perbatasan tersebut.
Editor: Aspian Nur